Be a Smart Voter - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Be a Smart Voter

Friday, March 14, 2014




PEMILU 2014 semakin dekat. Geliat politisi dan partai politik pun semakin gencar  dan kentara. Upaya penanaman citra dengan tujuan merebut kursi menjadi program utama. Sayangnya, saat ini sebagian rakyat Indonesia terlampau muak dengan tingkah elit politik yang munafik. Akhirnya, tidak sedikit rakyat lebih memilih menjadi by standers atau penonton yang pasif akan hiruk pikuk pesta demokrasi.
Dari pemilu ke pemilu memang rakyat sudah sering ketipu. Banyak caleg (Calon Legislatif) yang menjanjikan perubahan yang lebih baik di masa depan, bermoto kejujuran dan berpengalaman, bertopeng ulama, dan menjual embel-embel agama. Namun buktinya, masih ada kinerja dan moralitas wakil rakyat yang menorehkan catatan buram dan mengecewakan.
Menurut analisa penulis, Be a Smart Voter (menjadi pemilih cerdas) di pemilu 2014 ini akan menjadi harapan sebagian Caleg sekaligus menjadi ancaman bagi sebagian Caleg lain. Tergantung bagaimana niat dan tujuan mereka, kapasitas intelektualnya, investasi sosial nya, dan platform perpolitikannya.
Sehingga dapat kita lihat, ada sebagian caleg yang sengaja membentuk masyarakat menjadi pemilih yang irasional dan fanatik pada partai atau lambang partai, embel-embel agama dengan topeng ulama, menjual ketokohan orang lain, mengintimidasi, black campaign dan membentuk pemilih menjadi materialistik musiman. Hal itu dilakukan karena ketakutan berlebihan para caleg. Mereka menjadi tidak berminat menjalankan kampanye secara cerdas dan sehat, sebab mereka khawatir jika rakyat cerdas, maka peluang kemenangannya menjadi kecil.
Para caleg yang membentuk pemilih menjadi irasional biasanya adalah politisi busuk. Sebagian diantara mereka berlatarbelakang pendidikan rendah, atau berlatar pendidikan tinggi namun minim investasi sosial. Sebab selama ini kurang bersumbangsih dalam masyarakat karena sikap indivitualis. Kebanyakan mereka tidak memiliki visi, program dan platform politik yang jelas. Mereka hanya termotivasi untuk mengeruk untung pribadi dari jabatan legislatif yang akan akan diembannya. Wajar, setelah menang mereka mengikuti prinsip kacang yang lupa dengan kulitnya.
Berbeda halnya dengan caleg yang menghendaki adanya pemilih cerdas dan rasional. Mereka lebih condong memberikan pencerahan politik kepada masyarakat, di setiap kampanyenya tidak mengkultusan pilihan pada caleg tertentu saja. Bahkan mereka memberikan kebebasan kepada kontestannya untuk menilai caleg-caleg lain dan memulang kaji pilihan kepada pemilih.
Bagi calon pemilih yang ingin mendapatkan kriteria Caleg-nya yang ideal, Guru Besar Filsafat UGM (Universitas Gajah Mada) Joko Pitoyo, menawarkan 5 kriteria caleg yang baik dan pantas dipilih. Satu, punya integritas moral, Dua punya pengetahuan yang memadai tentang ke-Indonesiaan, Tiga kecakapan, Empat penalaran dan pengetahuan umum yang luas, Lima kecakapan dan ketrampilan teknik legislatif.

Tugas Mahasiswa
 Untuk mencapai kedewasaan politik dalam menciptakan pemilih cerdas dan rasional, diperlukan pendidikan politik terhadap rakyat. Pendidikan politik ini tentu menjadi tanggung jawab besar bagi mahasiswa. Peran mahasiswa pada Middle Position menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah membuatnya jauh lebih dipercaya dibandingkan para birokrat, apalagi politisi yang namanya sedang hancur lebur.

Semoga di momentum pemilu 2014 ini, ada gerakan mahasiswa yang dapat memberikan kontribusi lebih terhadap kemajuan perpolitikan bangsa. Dan tetap mampu menunjukkan jati dirinya sebagai aktor yang selalu gelisah terhadap realitas sosial yang ada.