Curhat: Aku Mau Banjir Selamanya...!!! - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Curhat: Aku Mau Banjir Selamanya...!!!

Friday, March 28, 2014


Oleh : Praja Rahman

“Apakah Kalimantan Timur miskin? Apakah kita bodoh? Apakah kita kekurangan professor dan orang-orang cerdas? Apakah kita sudah tak layak lagi disebut sebagai ibu kota Kaltim?”
Pertanyaan-pertanyaan ini berseliweran di kepalaku. Tepat disaat motorku mogok di simpang empat Lembuswana. Kudorong motorku perlahan dan kupandangi air keruh yang terus-terusan menggenang di kakiku. Masuk kesela-sela mesin dan knalpot lalu membuat para pengendara kendaraan beroda dua tak berkutik. Kemacetannya lebihdari 100 meter, dan para pengendara mendorong motornya yang mogok.
Samarinda yang dikenal sebagai ibu kota Kalimantan  Timur perlu melakukan evaluasi. Apakah kita masih layak dan pantas disebut sebagai ibu kota dengan kondisi lingkungan seperti ini. Banjir merupakan salah satu persoalan yang tak kunjung usai di kota ini. Sepuluh tahun terakhir Samarinda mulai menjadi pusat wisata banjir terbesar di Kaltim. Aku bukannya tak percaya dengan pemerintah kota. Tetapi sebagai rakyat kecil yang tak tahu apa-apa aku hendak bertanya pada pelaksana kebijakan. Apa kita kekurangan ahli lingkungan?  Apakah kita kekurangan ahli tata ruang? Kenapa banjir ini tak kunjung selesai?
Banyak yang mengatakan banjir ini masalah multidimensional. Iya,  tapi tak cukup hanya dengan mengatakan itu. Perlu tindakan konkrit dan nyata. Aku ingat betul perkataan salah satu tetanggaku bahwa dulu Samarinda ini tak langganan banjir. Tapi sewaktu tambang-tambang semakinbanyak, maka banjir mulai bermunculan. Lha,  permasalahan ini pasti terkait erat dengan persoalan tambang dan semakin berkurangnya daerah resapan dan ruang terbukahijau.
Pemerintah juga perlu menindak tegas pihak-pihak perusahaan yang sewenang-wenang, galitambang, ambilbatubara, tetapi tak melakukan reklamasi. Ya, mereka sih enak, banyak duit setelah itu pergi liburan keluar negeri. Senang-senang. Lhakita? Rakyat kecil di kota ini, sudah macet, banjir, mogok. Berapa duit lagi yang mesti dihabiskan untuk ngebenerin motor butut tahun 70-an? Apa perlu kita ngerampok juga supaya bias benerin itu barang?
Masyarakat juga kadang tak tahu diri. Tahunya ngomel saja, kritik sana-sini. Tapi malah ikut berkontribusi terhadap masalah ini. Lihat saja di jalan, berapa banyak mobil mewah yang lewat, yang isinya orang pintar dan banyak duitnya tapi kalau lagi di jalan malah membuang sampah lewat jendela. Dan yang paling parah, tampangnya seperti tak berdosa. Mobil harganya 300-500 jutaan bahkan ada milyaran, tapi sikap sama otaknya tak sejalan. Apalagi kalau kita nongkrong di tepian, ya Allah, banyaknya orang buang sampah sembarangan. Belum lagi yang  muda-muda asal lempar aja ke-sungai. Sekolah aja tinggi para mahasiswa ini, tapi sikap, sama anak TK aja kalah. Anak TK umur empat-lima tahun sudah tahu buang sampah itu pada tempatnya. Nah, ini yang tua-tua tak sadar diri.
Kalau kita mau banjir selamanya, terus aja pertahankan sikap kita yang seenaknya, biarkan aja pemerintah. Tak usah ditegur, jadi enak, uang untuk mengelola kota bias diembat sama mereka. Yang miskin tambah miskin, kaya tambah  kaya. Semoga tak ada yang mengaminkan “doa” ini.
Terakhir, kalau mau wisata banjir, main-mainlah ke Samarinda, Kota Tepian. Kota nya para “manusia ikan”.


Samarinda, 28 Maret 2014.
 
Penulis adalah aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiiyah Kalimantan Timur