GAIRAH TAHUN POLITIK - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

GAIRAH TAHUN POLITIK

Friday, March 14, 2014
GAIRAH TAHUN POLITIK
Para elite negeri ini makin sibuk dengan aktivitas beraroma politik.  Dari elite parpol sampai non-parpol seolah bergairah untuk menampilkan pesan-pesan politik, yang terbuka maupun terselubung. Apakah ini ada kaitan dengan Pemilu 2014 yg sudah di depan mata?, yang memang tinggal bulan depan? Jelas ada. Para tokoh parpol makin bergairah. Gencar pasang iklan diri di televisi dan media cetak. 
Berbagai kunjungan ke masyarakat. Membikin manuver-manuver  politik. Pendek kata, melakukan berbagai macam aktivitas politik yang menyita ruang publik. Tidak keliru jika tahun ini para elite politik terjangkiti demam politik 2014.
Kita juga tidak tahu apa di balik kunjungan para tokoh parpol dan non-parpol ke kediaman Anas Urbaningrum. Katanya sulaturahim dan memberikan simpati atau dukungan moral. Tapi setiap keluar dari rumah mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu, membikin pernyataan ke publik. Lupakah para elite itu tentang satu hal paling krusial, bahwa Anas adalah tersangka kasus korupsi proyek Hambalang yang tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi? Korupsi itu tetap korupsi, siapa pun yang diduga pelakunya, wajib dijauhi.
Para politisi sepertinya mau melumpuhkan daya kritis masyarakat. Ditambah media yang hanya memburu sensasi politik belaka. Makin seksi isu politik dan makin aneh dan tidak masuk akal gerak-gerik politisi makin diburu, mereka menjadi santapan media. Khalayak pun ikut-ikutan menikmati sandiwara demi sandiwara politik yang kadang amat memuakkan  ini. Sandiwara politik semacam ini terasa mengandung hawa jahat yang dapat meracuni kesadaran rakyat kita.
Kini nyaris sulit membedakan pernyataan politik dan pesan moral kebangsaan. Sebagian elite nasional non-parpol pun sibuk dengan aktivitas yang cenderung bernuansa politik. Kenapa demikian? Semestinya ada pembagian kerja yang jelas. Sementara elite parpol makin tidak mengurus rakyat. Memang mereka hanya sibuk mengurus kepentingannya sambil menguras uang rakyat. Masalahnya, beranikah rakyat menghukum mereka yang jahat itu dengan tidak memilih mereka pada Pemilu 2014 nanti?
Ketika daya kritis masyarakat dilumpuhkan politisi dan media, apa yang sebaiknya kita perbuat? Bagaimana cara melakukan kampanye untuk menghidupkan kembali daya kritis masyarakat agar mereka tidak selalu menjadi korban permainan jahat para politisi dan pejabat negara atau pejabat publik itu?

Kenapa elite politik memperlakukan Pemilu 2014 sebaga gerbang surga bagi keuntungan pribadi, keluarga dan partainya? Apa peran tokoh masyarakat dalam mencerdaskan rakyat jelang 2014?