Jokowi Anak Emas Media Massa - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Jokowi Anak Emas Media Massa

Tuesday, March 25, 2014

Oleh : Affandi Affan

 Tahun 2014 adalah tahun politik.Paling tidak begitulah yang menjadi buah bibir para tokoh politik dan pengamat serta sebagian  cendekiawan memberikan stigma pada kehadiran tahun 2014. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan tahun politik itu, bahkan tidak jarang para caleg yang notabene adalah anggota partai politik saja tidak memahami betul yang dimaksudkan dengan tahun politik yang menjadi issu nasional itu.
Ohmae dalam buku Memotret Telematika Indonesia Menyongsong Masyarakat Informasi Nusantara menjelaskan bahwa “perubahan tatanan social politik terjadi didorong oleh perkembangan-perkembangan mutakhir yang luar biasa dalam teknologi telekomunikasi, informasi dan komputer” Pemikiran Ohmae ini mewakilki paham determinisme teknologi, yaitu paham bahwa teknologi, dalam pengertian teknisnya merupakan factor yang mendorong dan menentukan bentuk dan arah perubahan sosial. Batas-batas politis bangsa-bangsa dunia menjadi sirna karena didesak oleh perkembangan teknologi informasi.
Kemampuan mengelola kehadiran perkembangan teknologi informasi akan memberikan keuntungan yang luar biasa bagi siapa saja termasuk bagi para politisi untuk membangun opini dan kekuatan dalam rangka merebut kekuasaan.
”Jokowi anak emas media massa” pernyataan ini bukan tidak beralasan. Kehadiran Jokowi yang diawali ketika berlangsungnya  bursa calon gubernur DKI Jakarta, diakses bahkan dijadikan komoditas menu media massa dan bernilai komersial yang memberikan  keuntungan dalam dunia bisnis informasi. Indah kabar dari rupa. Begitulah petuah orang tua. Kabar tentang Jokowi di Solo yang dibesar-besarkan media massa, membakar ekspektasi masyarakat Jakarta menjadi meluap-luap seolah-olah hendak menjadikan Jokowi pahlawan yang dapat mengatasi masalah krusial dan klassik warga Jakarta yaitu Macet dan Banjir. Disamping ekspektasi dan emosional yang menggelegak bagaikan gelombang samudera hindia, konsekwensi logis dimana masyarakat Jakarta kecewa dengan pemimpin-pemimpin terdahulu. Inilah sesungguhnya mengapa pilihan jatuh kepada Jokowi. Padahal masalah macet dan banjir Jakarta, tidak sesederhana sebagaimana permasalahan yang ada di Solo, karena mengurai kemacetan dan mengatasi banjir harus diatasi bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terkait sebagai pemasok kemacetan dan banjir tersebut. Jangankan hanya jabatan Gubernur DKI Jakarta, kalaupun jadi Presiden belum tentu bisa mengatasi masalah macet dan banjir kota Jakarta. Mengapa ? Karena kompleksnya permasalahan. Hal ini secara sederhana dapat dianalogikan, bahwa presiden Republik Indonesia sudah silih berganti, sejak presiden RI yang pertama Bung Karno, Pak Harto, BJ. Habibi, Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Megawati Sukarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), demikian juga Gubernur Jakarta sudah  bergonta ganti, dari mulai Gubernur ke enam yang kontroversial Ali Sadsikin hingga Fauzi Bowo, yang mustahil mereka tidak mempunyai program mengatasi kemacetan dan banjir Jakarta, namun realitasnya, ternyata Macet dan Banjir tetap berlanjut berkesinambungan menjadi masalah turun temurun. Karena masalah macet tidak berdiri sendiri, paling tidak ada beberapa hal yang erat kaitannya dengan masalah macet Jakarta antara lain luas wilayah dengan pertumbuhan / perkembangan jumlah penduduk yang tidak seimbang, ditambah lagi Jakarta dijadikan tempat mengadu nasib bagi pencari kerja dari berbagai daerah. Pola hidup sebagian masyarakat Jakarta yang bermewah-mewah sehingga ada 1 (satu) keluarga memiliki 3 (tiga), 4 (empat)  buah mobil bahkan lebih. Tidak seimbangnya infrastruktur jalan dengan jumlah kenderaan yang terus bertambah, dan lain-lain.
Demikian halnya masalah banjir Jakarta tidak berdiri sendiri. Letak geografis kota Jakarta, yang seolah-olah berbentuk sebuah kuali besar yang menampung tumpahan air hujan dari hulu, maupun air pasang laut. Apa yang harus dilakukan, kanalisasi, membangun resapan air, atau dibuat benteng yang tinggi sepanjang jalur-jalur lintas air yang melimpah ke kota Jakarta, sehingga luapan air tidak akan dapat menembus benteng yang tinggi melindungi kota Jakarta tersebut, atau secara intensif teknologi pendistribusian hujan dilakukan walaupun dengan biaya yang tidak murah, membutuhkan badan/ lembaga khusus yang terdiri para ahli dari anak bangsa melakukan kajian yang sungguh-sungguh dan komprehensif agar masalah banjir ini dapat ditemukan jalan penyelesaiannya.
Jokowi anak emas media massa artinya, setiap langkah Jokowi senantiasa diikuti oleh media, bahkan kalau tidak melanggar etika, dan izin Jokowi, maka tidurnya Jokowipun dijadikan  berita. Poling yang menempatkan Jokowi sebagai calon presiden dengan prosentase tertinggi sesungguhnya merupakan kemenangan media massa.. Betapa tidak ! Para awak media massa baik elektronik maupun cetak, didukung oleh para intelektual mengatasnamakan lembaga surveynya ini secara intens, sistematis dan terprogram dengan instrumennya memasarkan sosok Jokowi seolah-olah sebagai pemimpin yang tepat untuk Indonesia ke depan.  
Sebenarnya kegamangan (dengan tertegun dan terkaget-kaget) Jokowi menghadapi realitas masalah kota Jakarta yang tidak kunjung terselesaikan, yang tidak akan pernah membuka  intelektual, dan emosional masyarakat yang sudah ternina bobokkan dengan ekspektasi dan kekecewaan carut marutnya kepemimpinan daerah dan nasional dengan beragamnya permasalahan yang terjadi, menjadi indikator bahwa Jokowi sesungguhnya tidak lebih istemewa dari Bu Risma ( Tri Risma Harini).
Tidak berlebihan jika dikemukakan bahwa yang membedakan antara Jokowi dengan Bu Risma wali kota Surabaya Jawa Timur adalah, jika Bu Risma turun blusukan tidak menggunakan jasa media massa untuk mengekspose kepeduliannya kepada rakyatnya, sedangkan Jokowi, kemana pergi, bergerak melangkah selangkah atau seribu langkah tetap dengan setia awak media meliputnya. Kebesaran Jokowi belum memperlihatkan keberhasilan gemilangnya, akan tetapi lebih dibesar-besarkan media massa semata.
TS. Elliot   mengemukakan : ”apa yang kita ketahui mengenai orang lain hanyalah memori kita mengenai saat-saat kita mengenalnya. Dan orang itu telah berubah sejak itu... dunia berubah lebih cepat dari pada kata-kata, namun kita tetap menggunakan kata-kata yang agak usang dan tidak lagi menggambarkan dunia tempat kita tinggal” (Dedy Mulyana : 2007)
 Media massa penyumbang terbesar mengangkat popularitas seseorang menguasai opini dunia. Keberpihakan media massa terhadap salah satu sosok yang direkayasa agar diidolakan menjadi penggerak percepatan popularitas tersebut. Disinilah pentingnya informasi yang jujur, transparan, dan lengkap serta penerimaan informasi dengan cerdas sehingga tidak terjebak pada indah kabar dari rupa!
”Penulis Ketua Asosiasi Pers Independent Indonesia (APII) Kota Medan & Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
   ( UMSU) Medan”.