NALAR KRITIS PEMIKIRAN KAUM MUDA - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

NALAR KRITIS PEMIKIRAN KAUM MUDA

Wednesday, March 19, 2014

Oleh: Edi Setiawan

Melihat titik balik sejarah masa lalu, sudah tentu kaum muda memiliki peranan lebih dalam mengubah sebuah keadaan. Sangat jamak bila kaum muda yang dibekali ide dan gagasaan akan selalu di tempatkan sebagai lokomotif penyuara perubahan. Namun, belakangan ini, peran-peran sentral intelektual muda mulai tidak tampak aksentuasi gerakannya dalam pelbagai kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal, Intelektual muda mempunyai potensi yang sangat besar dalam upaya membangun peradaban yang maju dan bermartabat.
Meminjam bahasa Tb.Bottomore (1964), kaum intelektual adalah sekelompok kecil dalam suatu masyarakat yang kehadirannya mampu memberikan kontribusi  kepada pembangunan, transmisi, dan kritik gagasan. Kriteria kaum intelektualitas tidak terbatas pada gelar–gelar akademik atau perolehan ijazah di perguruan tinggi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang keilmuan dan status sosial.
Bahkan Presiden pertama Ir. Soekarno dengan lantang menyeru “Berikan Aku 10 Pemuda maka akan kuguncang dunia” Sebuah kalimat yang disampaikannya dengan sangat berapi-api, mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa dan negara Indonesia ini terletak di tangan generasi muda. Inilah generasi yang akan menjawab berbagai tantangan di masa depan dengan berbagai kompleksitasnya. Karena ditangan pemuda lah bangsa ini akan maju.
Ada adagium yang menyatakan bahwa untuk melihat masa depan dari suatu bangsa maka lihatlah kaum mudanya. Kaum muda memang fenomenal, gerak sejarah republik ini juga mencatat eksistensi mereka dalam pelbagai peristiwa nasional. Dimulai dari Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi kemerdekaan 1945, penggulingan orde lama 1966, hingga reformasi 1998. Dapat dikatakan, kaum muda (intelektual) mampu menunjukkan peranannya sebagai agen transformasi sosial.
Tetapi aksentuasi intelektual kaum muda dimasa sekarang tercoreng dengan ulah oknum yang disebut sebagai refresentasi dari kaum muda. Terkait kasus korupsi yang saat ini marak dilakukan kaum muda, seperti M. Nazaruddin dan Gayus Tambunan. Kasus ini mencitrakan mereka sebagai bagian dari refresentasi intelektual muda yang kehilangan akar sejarahnya bahkan mulai hilang seiring dengan prilaku yang tidak terpuji. Sehingga status quo suatu rezim koruptif tidak tergoyahkan karena pemuda yang diharapkan menjadi revolusioner justru berada dalam pengaruh penguasa. Bahkan selanjutnya mereka ini menjadi bagian dari penguasa yang tentu saja ikut melanggengkan budaya koruptif.
Dalam konteks sejarah, penegasan Prof Dr. Syafi'i Ma'arif memiliki kesamaan paradigmatik dengan tuduhan Julien Benda atas kaum intelektual Perancis. Dalam pandangan Benda, kaum intelektual Perancis saat itu telah memprostitusikan ilmu pengetahuannya guna melegitimasi kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan. (S. Tasrif, 1980: 111).
Peran Intelektual Muda
Yang sangat menarik, peran dan fungsi kontrol sosial (social control) kaum intelektual muda di negeri ini dinilai bukan saja kian melemah. Tetapi, mereka juga telah mengkhianati cita-cita luhur para pendiri bangsa (founding father), khususnya dalam upaya membangun masyarakat berperadaban, adil, makmur dan sejahtera.
Penyebab utama dari problematika yang menimpa tubuh kaum intelektual muda itu akibat dari persinggungan (perselingkuhan) mereka yang amat kental dengan kekuasaan (status quo) bahkan mereka membanjiri kekuatan kapitalisme lewat budaya massa dan budaya instan lainnya. Dilain sisi mahasiswa bagian dari kamu muda banyak menciptakan budaya massa dan budaya instan yang  menyebabkan mereka datang ke kampus bukan untuk mencari ilmu, namun sekedar untuk mendapatkan gelar.
Akibatnya, mereka tak mampu menggunakan fungsi keintelektualannya, yaitu meneriakkan kebenaran dan keadilan bagi rakyat yang tergilas. Bahkan mereka tidak memiliki produktivitas intelektual dan daya kritis terhadap diri, lingkungan, bangsa, dan negara. Karena tidak berbasis intelektual, kultur datatif tidak tumbuh, dan intellectual exercise yang seharusnya menjadi trade merk memudar. Kondisi ini ditambah dengan tradisi pemuda sekarang lebih rela begadang semalam suntuk untuk hura-hura, dugem, dan nongkrong dijalanan daripada menggunakan daya kritis untuk memahami permasalahan di sekitar mereka.
Sejatinya kaum intelektual bukan berada di atas “menara gading” yang mengumandangkan kebenaran dan keadilan bagi rakyat tertindas hanya dari kejauhan. Kaum intelektual muda harus bisa melakukan kritik yang membangun terhadap seluruh kebijakan publik dan politik di negeri ini. Bukan berada di sentra-sentra kekuasaan yang semestinya hanya bekerja dan mengabdi pada masa depan kemajuan bangsa dan negara, bukan memanfaatkan kekuasaan itu semata mengejar keuntungan yang bersifat finansial guna menumpuk kekayaan diri sendiri.
Salah satu penyebab yang paling mendasar adalah akibat budaya demokrasi yang belum ditegakkan dengan betul. Kerap terjelaskan bahwa reformasi baru sebatas mengganti elite, tidak mentransformasi budaya berkuasa sehingga ada jaminan perubahan. Budaya itu kemudian membuat orang selalu ingin mendapat sesuatu secara instan. Tidak ada lagi perjuangan dan keringat untuk bisa mencapai sebuah tujuan. Dalam otobiografinya yang sangat inspiratif, Long Walk to Freedom (1995), Nelson Mandela mengingatkan bahwa perubahan itu tidak bisa datang tiba-tiba. Perubahan harus diperjuangkan dengan tulus dan niat baik.

Sebagaimana kisah inspiratif Nelson Mandela, kita patut tertegun akan perubahan kaum muda sebagai bagian terpenting dari keberlanjutan kepemimpinan bangsa ini. Untuk itu kaum muda harus disokong dengan pengetahuan dan kapasitas sebagai hal mutlak yang harus dimiliki, agar mampu mewarnai wacana dan pemikiran. Kaum muda harus memiliki integritas. Sehingga tingkah polah kaum muda menjadi elan vital bagi penyuara perubahan. Dalam tataran ideal, kaum muda memiliki peluang dan waktu yang banyak untuk berpikir tentang rakyat. Totalitas, loyalitas juga sangat diperlukan. Berproses menjadi hal penting, tidak menjadi politisi instan, sehingga sangat mudah untuk dipatahkan.

Penulis adalah Intelektual Muda Muhammadiyah
Foto:www.kompasmuda.com