Partai Islam Sulit Jadi Pemenang Pemilu - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Partai Islam Sulit Jadi Pemenang Pemilu

Thursday, March 20, 2014

Fahman Habibi
Pemilu tahun 2014 sudah memasuki tahapan kampanye terbuka, berbagai daya dan upaya dikerahkan oleh para calon legislatif, yang menjadi ujung tombak bagi partai politik untuk mampu meraup suara sehingga bisa menjadi partai yang paling banyak mendudukkan kadernya di kursi legislatif.
Sepanjang sejarah pemilu di Indonesia, peta politik  selalu diwarnai oleh dinamika yang beragam. Pusat konsentrasi suara dalam setiap pemilu  hanya berada di  dua kelompok  yaitu kelompok islam dan nasionalis. Namun setiap pertarungan selalu kelompok nasionalis yang keluar sebagai pemenang. Sebagaimana diungkapkan oleh Fahman Habibi pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka  (UHAMKA).
Dalam sejarah dituliskan bahwa Pemilu 1955, dianggap sebagai pemilu yang paling demokratis sepanjang perjalanan pesta demokrasi di Indonesia dimana saat itu    Partai Islam MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia)  yang didirikan oleh M.Natsir  mampu meraih suara 22 persen dan  58 kursi namun masih kalah dari  partai nasional Indonesia  ( PNI) yang meraup suara 22,3 persen.
“Apa yang terjadi saat itu, merupakan puncak  tertinggi  Capaian suara  partai islam  yang akan sulit terulang dalam perjalanan politik bangsa. Padahal  di Indonesia ummat islam  menjadi penduduk  mayoritas“  lanjut Fahman.
Berbagai cara sudah dilakukan untuk menyatukan persepsi, kembali mengangkat citra politik islam. Namun, hingga kini  belum ada satu tokohpun yang  mampu menyatukan pandangan antar kelompok, yang berakibat pada  terus menurunnya citra, kualitas, dan popularitas partai islam  hingga sekarang.
Fahman menilai, Meski ada beberapa aktifis  partai  islam mengklaim pada pemilu tahun 2014 ini  akan mampu menjadi partai yang menduduki angka  tiga besar, dengan argumentasi suara mereka akan terus naik, namun  setelah ia amati dilapangan partai tersebut  belum mampu meraih simpati publik  secara maksimal. Bahkan banyak diantara  diantara mereka hanya  memanfaatkan simbol-simbol dan isu-isu solidaritas  Ummat islam didalam negeri maupun didunia internasional  sebagai bahan sosialisasi tapi itu dirasa kurang efektif karena  baru sebatas mengikat loyalitas kader internalnya saja.
Fahman Habibi yang merupakan salah satu Tokoh Muda potensial  asal Jambi menyarankan kepada partai politik Islam untuk  melakukan sosialisi yang  lebih elegan dengan cara berkomitmen untuk membantu memenuhi  kebutuhan dan kegelisahan masyarakat bukan malah sebaliknya dengan memngumbar janji-janji  Muluk.
“Ada beberapa isu yang bersifat  Universal dan juga  masih relevan untuk diangkat  seperti  kemiskinan, pendidikan, dan Pemberantasan  korupsi serta moralitas yang sangat erat kaitannya  dengan upaya meningkatkan  kesejahteraan untuk mempersatukan kelompok manapun”. Sambung Fahman.
Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai islam ini menurutnya diakibatkan oleh prilaku amoral yang ditunjukkan ahir-ahir ini, padahal  sebelum berkuasa mereka selalu mengumbar janji dan terlihat seperti Dewa namun setalah berkuasa malah melakukan pendusataan terhadap kepercayaan yang diberikan oleh rakyat  seperti beberapa kasus yang membelit tokoh elit partai Islam pada tahun 2013 yang lalu.
Fahman Berpendapat Jika ingin ummat islam Ingin  menguasai perpolitikan Indonesia sebetulnya tidak selamanya harus lewat partai Islam.
“Tokoh-tokoh yang memiliki komitmen moral tinggi, dan memiliki kwalitas dan komitmen yang besar  terhadap urusan ummat, kebangsaan dan diterima oleh semua kalangan. Harusnya didistribusikan dipartai-partai “besar”. Maka, saya yakin mereka  akan mampu mempengaruhi kebijakan didalam Partai politik tempat ia bernaung sehingga  ummat islam akan  diuntungkan karena tersebar dimana mana.  namun  jika tokoh islam hanya berkumpul dalam satu partai politik saja  maka akan sangat mudah dihancurkan” Tutupnya 

Sumber Foto : iPublika