OPTIMALISASI EKONOMI INDONESIA - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

OPTIMALISASI EKONOMI INDONESIA

Saturday, March 15, 2014


Krisis keuangan Eropa yang sedang terjadi mungkin saja menjadi salah satu pemicu percepatan pergeseran kekuatan ekonomi global dari negara-negara maju ke arah negara-negara berkembang (New Emerging Markets). Meskipun kenaikan harga akan segera berlangsung tapi potensi pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan dari kualitas sistem produksi dibidang pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan Indonesia.
Terlihat, kecenderungan yang lebih cepat akan terjadi di Indonesia yang berada di kawasan Asia diperkirakan akan memperoleh manfaat positif yang berarti dengan pasar yang bergerak ke Indonesia. Sedangkan dari sisi produksi, peranan sektor industri manufaktur dan sektor konstruksi diperkirakan akan semakin menonjol dan memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia lima tahun ke depan, di samping sektor pertanian yang bisa tumbuh lebih dua kali lipat dari pertumbuhan penduduk, sektor perdagangan, dan sektor keuangan.
Bila aktivitas ekonomi Indonesia tidak ingin terganggu dari dampak harga minyak dunia maka aktivitas penggunaan faktor produksi harus diirit sesuai kebutuhan riil masyarakat. Kita menyadari bahwa untuk mencapai kondisi ideal tak akan terjadi dalam waktu singkat. Kita harus senantiasa menjaga agar proses pemulihan ekonomi berlangsung secara cepat dan dinamis. Untuk itu kita perlu bersabar untuk menapaki proses yang berkelanjutan lewat pembangunan dan penguatan kelembagaan (institutional development).
Dengan penguatan kelembagaan dapat dipastikan investasi yang masuk ke Indonesia dalam beberapa tahun mendatang akan segera terwujud. Sebagai negara yang mempunyai sumber daya yang besar, Indonesia akan menjadi lokasi yang lebih menarik. Para investor yang berasal dari negara di luar ASEAN akan berusaha memanfaatkan sumber daya yang tersedia di Indonesia dengan ketentuan rule of origin yang diberlakukan oleh ASEAN dalam kerangka AFTA.
Menyimak kecenderungan yang terjadi, Indonesia perlu memberikan peluang kepada para investor untuk memanfaatkan “kelebihan” yang dimiliki oleh Indonesia. Berkaitan dengan itu maka sikap keterbukaan dari masyarakat perlu dikembangkan agar para investor asing merasakan bahwa risiko berusaha di Indonesia mengalami perubahan yang berarti.
Ditambah peningkatan investasi fisik harus terus dilakukan agar dapat memacu pertumbuhan ekspor sehingga dapat mengakselerasi dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan. Pembangunan infrastruktur tentu saja perlu terus dilanjutkan. Dalam jangka pendek dan menengah, selayaknya fokus diberikan kepada listrik dan air. Untuk jalan dan pelabuhan yang menjadi tulang punggung sistem logistik, pembangunan hard infrastructure (penambahan ruas dan panjang jalan) ditambah dengan soft infrastructure (perbaikan SDM dan pemberantasan pungli di jalan) agar dapat memacu pertumbuhan investor.
Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia
Masalah Sumber Daya Manusia dan ketenagakerjaan hendaknya menjadi salah satu prioritas perhatian pemerintah. Karena sebagaimana dituangkan dalam Pasal 27 ayat 2 UndangUndang Dasar 1945, seluruh warga negara Indonesia selayaknya dijamin haknya atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Namun, sampai saat ini masalah pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kebanyakan masyarakat Indonesia masih terus menjadi persoalan yang belum teratasi.
Strategi pembangunan ekonomi dan investasi di Indonesia selama ini, yang mengejar pertumbuhan ekonomi berbasis modal, ternyata belum mampu mengatasi masalah ketenagakerjaan, khususnya dalam hal penciptaan kesempatan kerja yang memadai, mengurangi tingkat pengangguran, dan mengatasi kemiskinan. Ini antara lain disebabkan karena Indonesia adalah negara yang perekonomiannya kelebihan tenaga kerja (labor surplus economy), sehingga pertumbuhan ekonomi tidak serta merta berdampak secara signifikan mengatasi pengangguran dan kemiskinan.
Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara pengekspor produk berbasis sumber daya lokal yang terbarukan (renewable local resources) seperti di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Untuk mengembangkan potensi tersebut diperlukan SDM yang berkualitas. Pemerintah hendaknya terus meningkatkan pelaksanaan pendidikan dan penguatan skill dengan pengadaan kursus-kursus keterampilan bagi tenaga kerja Indonesia. Ditambah penempatkan TKI formal semi skilled khususnya kelompok usia kerja produktif yang besar agar mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lainnya. 
Optimalisasi Potensi Daerah
Salah satu dimensi kebebasan yang sudah mulai bergulir adalah otonomi daerah. Terlepas dari masih banyak kelemahan dalam penerapannya. Ekses penerapan otonomi daerah dapat mendorongan untuk memajukan iklim usaha dan mengundang investor. Indonesia perlu menarik lebih banyak investasi yang berhubungan dengan investasi dasar, seperti dalam bidang manufaktur, sumber daya dan pertanian yang merupakan sumber keunggulan komparatif yang sangat bisa diandalkan.
Kemudian investasi untuk infrastruktur fisik modern guna mendukung pertumbuhan, khususnya di daerah. Bersamaan dengan investasi dalam infrastruktur fisik, investasi di bidang jasa yang memerlukan infrastruktur fisik juga perlu dilakukan. Hal ini termasuk jasa seperti telekomunikasi, teknologi komunikasi dan informasi, pendidikan, transportasi dan distribusi.
Semua kegiatan di atas memerlukan koordinasi lintas sektoral dalam investasi dan pengaturan kebijakan, dan harus ditempuh dengan cara yang paling efisien. Keterkaitan antar kegiatan akan menjadi faktor penentu apakah Indonesia mampu mengambil manfaat yang sesungguhnya dari adanya integrasi ekonomi dengan pasar regional dan internasional.
Untuk melakukan kegiatan diatas perlu regulasi secara insentif yang prorakyat sehingga dapat memasukkan teknologi dan sistem managemen baru dalam pelaksanaanya. Singkatnya, kebijakan yang lebih progresif dan kerja lebih keras dalam peta pembangunan ekonomi Indonesia dapat masuk ke dalam arus utama (mainstream) pelaksanaan kebijakan ekonomi nasional. 
Oleh: Edi Setiawan
Penulis adalah Analis Ekonomi FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta







Foto: http://majalahkomite.wordpress.com/