“REFLEKSI SETENGAH ABAD IMM” - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

“REFLEKSI SETENGAH ABAD IMM”

Sunday, March 16, 2014

     

     IMM DIANTARA PERGULATAN PERADABAN GLOBAL
     (Rekonstruksi Gerakan Ikatan dalam Kemandirian Bangsa)
Oleh : AFFANDI AFFAN
Iftitah
Tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia nampaknya semakin berat dari waktu ke waktu. Sebagai negara berkembang yang bermimpi menjadi sebuah bangsa yang dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia. Indonesia menghadapi berbagai beban tantangan yang terlihat semakin kompleks dari hari ke hari. Berbagai problema internal, baik menyangkut kehidupan ekonomi, politik dan sosial, nampak semakin mengusut, mengiringi tantangan yang menyerang dari luar yang juga tidak mudah dikendalikan. Meskipun rezim Orde Baru telah angkat kaki, tetapi pemerintah baru yang menggantikannya belum mampu untuk menemukan obat yang mujarab untuk mengatasi problematika internal, bahkan problematika itu semakin membiak dengan subur, akibat banyaknya keputusan dan kebijakan yang tidak pas dengan tuntutan kehidupan bangsa.
Elit politik yang seharusnya bahu membahu dan bergandeng tangan dalam mengatasi problematika internal, akan tetapi ternyata lebih memilih berjalan sendiri-sendiri seolah tanpa koordinasi. Barangkali hal ini mengisyaratkan bahwa mutual trust atau saling percaya di antara para elit itu tidak kunjung terbentuk. Padahal sebuah komunitas, apalagi yang bernama negara, membutuhkan elit politik yang mampu saling mendukung dan bekerjasama dalam mengatasi problem yang sedang dihadapi  (Covey, 1999)
Setiap anggota, kader dan warga ikatan hendaklah memiliki sensitivitas ideologi, yang menggelorakan semangat kebangsaan dalam upaya mendorong tercapainya mimpi dan harapan masyarakat Indonesia yaitu terciptanya tatanan kehidupan sosial yang harmonis, dengan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang berakar pada karakter yang dilandasi dengan iman dan taqwa mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera lahir dan batin dalam rahmat dan ridha Allah SWT.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam perjalanannya yang telah mencapai setengah abad (50 tahun)  terhitung sejak 14 Maret 1964 – 14 Maret 2014 yang notabene sebagai perwujudan keinginan Muhammadiyah mewariskan gerakan intelektual menyikapi cepatnya pergerakan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka satu hal yang makin penting dalam rangka mengaktualisasikan gerakan Muhammadiyah pada level sosial yang objektif, di kota maupun di desa, adalah bahwa secara sadar Muhammadiyah harus kembali berperan untuk mengarahkan transformasi sosial. Sejarah membuktikan, gerakan sosial Muhammadiyah bukan hanya berhasil melakukan adaptasi tapi juga reformasi terhadap system yang ada.Kini sekali lagi gerakan Muhammadiyah ditantang untuk membuktikan kemampuannya itu. Jelas bahwa adaptasi sosial yang brhasil dicapai Muhammadiyah sampai sejauh ini masih harus dilanjutkan kearah reformasi. Pertanyaannya, siapkah Muhammadiyah mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi strukturalnya ? (Kuntowijoyo, 1991). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai pewaris sejarah yang dicapai Muhammadiyah ditantang untuk berfikir keras agar dapat melahirkan pemikiran-pemikiran cerdas dalam menempatkan posisinya sebagai gerakan intelektual yang Islami yang sadar terhadap kewajiban dan tanggung jawabnya atas peran kehambaan-kerisalahan-dan kekhalifahan yang benar-benar akan dapat menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin)-keteladanan yang baik (uswatun hasanah) serta berperan li utamimma ma karimal akhlaq.

IMM : Refleksi Intelektual Muslim Muhammadiyah
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah refleksi intelektual muslim yang sepatutnya tidak hanya memiliki kemampuan intelektual yang cemerlang, akan tetapi memancarkan kecerdasan emosional-kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial  sehingga tidak terjadi kesenjangan antara tujuan Muhammadiyah melahirkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai pewaris intelektual yang Islami-yang akan tetap sadar dan bertanggung jawab akan tujuan Muhammadiyah yaitu “ menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat yang sebenar-benarnya” .
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak boleh kehilangan identitas dirinya dan terpisah dari sejarah kelahirannya, dan tidak boleh pula menjauh dari latar belakang kehadirannya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kita harus mencoba, sekuat kita, untuk memikirkan kembali situasi histories yang diciptakan oleh perkembangan masyarakat-masyarakat Islam selama tiga puluh tahun yang silam, suatu fase dimana pemikiran kritis-yang mengakar dalam modernitas tetapi mengkritisi modernitas itu sendiri dan meneruskan pengkayaannya dengan bertumpu pada contoh Islam-harus menyertai-atau bahkan untuk sesekali mendahului tindakan politik, keputusan-keputusan ekonomi, dan gerakan-gerakan sosial yang besar.(Arkaoun, 1995).
Peranan pemikiran dalam suatu peradaban tertentu, tidaklah terbatas pada semata-mata asesori dan pelengkap hidup, semisal menciptakan hiasan-hiasan dinding di rumah-rumah. Dan itu tidak mungkin terjadi kecuali ketika masyarakat tersebut memasuki periode pasca peradaban.  Pada periode keterlibatan masyarakat dalam sejarah, pemikiran-pemikiran memainkan peranan fungsional. Sebab yang disebut peradaban adalah kemampuan menjalankan fungsi dan tugas tertentu. (Malik bin Nabi,1994)
Sebagai pewaris gerakan intelektual yang saat sekarang ini sedang berenang di antara ombak gelombang peradaban global dengan berbagai konsekuensinya, menjadi keharusan agar tetap mawas diri dan selalu ingat serta menjaga dan menelihara keseimbangan antara pencerdasan intelektual-pencerdasan emosional-pencerdasan spiritual dan pencerdasan sosialnya, dengan senantiasa menghidupkan panca indera dan daya observasinya, menghidupkan daya rasa dan daya ciptanya, serta menhidupkan dhamir-hati nurani dan bashirahnya. (Abul A’la, 1984)
Pemberdayaan energi intelegensi untuk menangkap getaran-getaran peradaban global-yang kerapkali akan mendatangkan badai transisi yang luar biasa yang akan mengguncang sendi-sendi dan kerangka pikir sebagai bagian dari masyarakat dunia-akan menghadapi dilemma-jika tidak mempersiapkan diri menyambut peradaban baru tersebut.
Selama lima abad terakhir ini pemikiran keagamaan dalam Islam terhenti. Suatu masa datang ketika pemikiran Eropa menerima ilham dari kejayaan dunia Islam. Tetapi gejala yang paling mencolok dalam sejarah modern adalah kecepatan yang luar biasa dimana umat Islam bergerak menuju Barat di bidang kerohanian. Tidak ada yang salah dalam gerakan itu, karena kebudayaan Eropa di segi intelektualnya, merupakan suatu perkembangan lebih lanjut dari beberapa segi penting dalam peradaban Islam. (Muhammad Al Bahiy,1986)
Menjadi intelektual muslim universal merupakan tanggung jawab sebagai warga dunia terhadap peradaban umat manusia, maka hendaklah menempatkan diri dalam lingkungan dunia dengan ide dan gagasan besar, serta mampu menangkap realitas yang ada di sekitar kita. Dan kita menyadari bahwa pada seluruh babakan sejarah dunia, kita akan menemukan Manusia Besar sebagai juru selamat yang niscaya di zamannya, sebagai sambaran kilat yang tanpa itu bahan bakar tidak akan terbakar. Sejarah dunia-hanyalah biografi Manusia Besar. Ada dua hal yang menyebabkan seseorang menjadi manusia besar, kekuatan intelektual untuk memahami realitas dan kemampuan bertindak yang tepat. Seorang manusia besar yang mengubah sejarah memang bukan hanya seorang filosof, yang bergulat dalam konsep dan  gagasan besar. Ia harus dapat menangkap realitas. Ia harus mengerti apa yang terjadi pada zamannya. Ali Syariati pernah membedakan dua jenis orang pintar; ilmuwan dan intelektual. Ilmuwan bersifat universal, Ia diterima dimanapun. Newton adalah ilmuwan di Inggeris, Jerman, Jepang dan Indonesia. Intelektual bersifat lokal. Ia adalah orang yang berhasil menangkap dan memahami  realitas bangsanya. Ia mempengaruhi bangsanya dengan berpijak pada nilai-nilai yang dianut bangsanya. Karena itu Soekarno adalah intelektual Indonesia, Ia tidak cocok untuk Francis.(Jalaluddin, 2000)
Berangkat dari sebuah kepercayaan, keterlibatan dalam tatanan peradaban global sebagai era multiperadaban, mengharuskan kita menghindari jeratan pemikiran yang melampaui wahyu dan melewati nilai-nilai prophetik, karena lebih disebabkan kehadiran kita dalam sejarah ini bukan sekedar menempatkan diri sebagai wakil manusia yang hanya berorientasi untuk kepentingan manusia semata-mata, akan tetapi lebih dari itu bahwa hidup kita benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam (ramatan lil ‘alamin)-menjadi uswatun hasanah (memberikan teladan yang baik) serta li utamimma ma karimal akhlak (membangun akhlak dan peradaban yang elok).
Terdapat ungkapan yang mengatakan ‘ kebudayaan adalah warisan kemanusiaan’ karenanya tidak mengenal tanah air, bangsa dan agama. Ungkapan ini benar bila tidak dikaitkan dengan sains dan berbagai praktik penerapannya, selama tidak-melampaui domainnya hingga-merambah penjabaran filosofis metafisika untuk menyimpulkan konklusi-konklusinya, tidak merambah penjabaran filosofis mengenai jati diri, dan aktivitas serta sejarah manusia.(Syyid Quthub, 2010)
      
IMM : Warga Bangsa Yang Mandiri dalam Kemandirian Bangsa
Dalam system kesadaran hirarkis kita, kemanusiaan dan kesadaran dunia merupakan unsure terakhir. Sebagai orang Muslim, kita memiliki tanggung jawab yang besarnya melebihi kemampuan kita sendiri, masyarakat kita, umat dan akhirnya terlimpah
Pada dunia secara keseluruhan. Keprihatinan pada nasib manusia, pada penderitaan dan penyakit, pada bahaya kelaparan dan bencana, pada kejahatan dan kekurangan pangan hanyalah merupakan satu langkah menuju kesadaran ini. Yang lebih penting adalah kesadaran akan kekuatan-kekuatan yang menjadi penyebab timbulnya kesengsaraan manusia ini.
Sebagian besar kesengsaraan dan penderitaan masa kini disebabkan oleh adanya gejala perubahan: gejala ini tidak hanya berbeda dari yang yang ada di zaman sebelumnya dalam aspek-aspek kuantitasnya tapi juga dalam aspek-aspek kualitas dan tingkat hubungannya. Di masa sebelumnya, perubahan dating secara pelan-pelan, endiri-sendiri dan terbatas pada konteks setempat. Sekarang, prubahan bersifat eksponensial, global dan tidak lagi terpisah-pisah urutan kejadiannya oleh waktu, jumlah orang yang terkena pengaruh dan tekanan-tekanan social dan fisik yang dibawanya.(Ziauddin, 1986)
Warga bangsa mandiri adalah potret kehidupan berbangsa yang berperadaban dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan universal yang konsisten  menjaga, memelihara dan mempertahankan kedaulatan hidup sebagai sebuah bangsa-dimana kedaulaan hidup dimaksud mencakup di dalamnya kedaulatan sebagai sebuah kesatuan tanah air, kesatuan bangsa dan kesatuan bahasa, serta kesatuan wawasan sosial budaya dalam bingkai kebhinnekaan tunggal ika, yang mampu memberdayakan dan mengelola sumber daya yang tersedia untuk kemaslahatan sebesar-besarnya bagi umat manusia. Jadi tidak hanya sekedar memiliki kemampuan membahagiakan diri sendiri, akan tetapi lebih luas lagi bersedia untuk mewakafkan segala kemampuan yang dimiliki untuk terciptanya kebahagiaan dan kedamaian umat manusia di muka bumi.
Kesadaran dan kesediaan menghibahkan diri untuk kepentingan umat manusia dengan berbagai aktivitas sosial- amal shalih- menggali-menemukan-mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia untuk terwujudnya masyarakat Indonesia khususnya-dan masyarakat dunia umumnya-mendapatkan keadilan-kesejahteraan dan kedamaian hidup merupakan implementasi warga bangsa mandiri dalam kemandirian bangsa.
IMM dalam usianya yang telah mencapai setengah abad tersebut hendaknya mampu menjadi pewaris gerakan intelektual di kalangan Muhammadiyah yang memiliki peran dan fungsi kehambaan-kerisalahan-dan kekhalifahan yang melekat pada jati diri dan takdir sejarahnya-tetap menjadi pilar memperteguh eksistensi gerakan yang akan diperankannya.
Tentu saja yang terbaik yang harus dilakukan, meningkatkan kualitas diri, keberanian melakukan introspeksi , kemampuan menangkap getaran-getaran peradaban dan menyikapi realitas yang ada-menghidupkan dhamir-hati nurani dan bashirahnya- serta meneguhkan akidah-istiqomah-menyiapkan diri sebagai pelayan kemanusiaan dan memberikan keteladananyang anggun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selamat Milad IMM, semoga mampu terus memberikan karya nyata untuk negeri.
“anggun dalam moral, unggul dalam intelektual.....” Jayalah IMM.....Jaya....

Penulis adalah “Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara & Alumni DAP IMM Kendari Sulawesi Tenggara”.