SATINAH "Pahlawan Devisa" Riwayatmu Kini - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

SATINAH "Pahlawan Devisa" Riwayatmu Kini

Wednesday, March 26, 2014


Dianti Novita Marwa


Oleh : Dianti Novita Marwa

Menanti detik-detik kematian dibalik deruji besi Arab Saudi menjadi penggalan kisah pilu Satinah. Sang “Pahlawan Devisa” Indonesia. Hari eksekusi hukuman mati terhadap dirinya yang makin dekat, menjadi polemik. Keterlambatan bantuan pemerintah Indonesia terhadap Satinah, dikritik banyak kalangan.
Bantuan hukum yang tidak diterima dan "ketidakpedulian" Indonesia disaat pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati menjadi babak baru baginnya. Satinah tak bisa berbuat apa-apa di negara yang asing baginya, hanya bisa menunggu kematian datang.
Peluang untuk ganti rugi pun seakan sirna setelah tidak ditemui kata sepakat. Keluarga hanya mampu membayar ganti rugi (diyat) Rp. 12M. sedangkan pihak keluarga korban meminta Rp. 21M.
Di Indonesia sendiri kalangan aktivis sosial dan pemerintah khususnya di Jawa Tengah telah membuka posko untuk menerima bantuan dari masyarakat. Namun, ternyata bukan hanya Sutinah Sang Pahlawan devisa negara yang harus menghadapi kenyataan di eksekusi mati. Tapi masih ada 70 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia yang mengalami kasus serupa dengan Sutinah. Belum lagi dinegara-negara lain. Akan sampai kapan TKI sang pahlawan devisa tereksploitasi oleh kematian dinegeri orang? Akan sampai kapan negara ini terlambat membantu dan membela rakyatnya?
Jika terus-terusan hal ini terjadi, maka kekuatan Indonesia yang merasa besar, dipertanyakan. Untuk kesekian kalinya Indonesia tak mampu melindungi warganya.
Berbagai solusi sudah ditawarkan, tetapi seakan terabaikan dan sulit untuk dilakukan. LSM, akademisi, aktivis, dan hampir seluruh lapisan masyarakat bahu membahu. Membantu baik moril maupun materiil dalam penanganan keadaan ini.
Tak punya kekuatan massif, Indonesia Seakan menjadi bulan-bulanan negara asing.  warganya terus dieksploitasi dengan kenyataan tak terbantahkan bahwa bangsa ini lupa akan jasa para pahlawan-pahlawan devisa itu.
Kini, semua media meliput dan memberitakan tentang Satinah. Namun, hanya bayangan kematian didepan mata Satinah.
Bagi bangsa ini, mungkin tak berdampak penting jika seorang warganya dihukum mati. Tapi mau sampai kapan bangsa ini tercabik-cabik membiarkan warganya mati dieksekusi? Menjadikan Pahlawan Devisa  sebagai pahlawan tanpa tanda jasa?
Kenyataannya, bangsa ini tetap bertahan pada keegoisannya. Membiarkan Satinah dan TKI lain menjadi pahlawan devisa dinegeri asing, bertaruh atas nama bangsa didepan kematian.

Penulis Adalah Aktivis DPD IMM Sumatera Utara  

Sumber Foto : iPublika