TRILOGI IMM ANTARA MITOS DAN REALITAS - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

TRILOGI IMM ANTARA MITOS DAN REALITAS

Friday, March 14, 2014

Oleh : Abdul. K. Tulusang

 “sebuah gagasan hanya akan rasional, ketika tidak terasing dari realitas, dan mampu menjadi “problem solution” dalam konteks masyarakat”. Bagi seorang Karl Freidrich Marx, esensi perubahan bukan semata-mata ada dalam gagasan, ide ataupun pemikiran melainkan lebih ditentukan oleh komitmen yang utuh dan kokoh dalam mewujudnyatakannya dalam tindakan. Semua orang boleh berpikir, semua orang dapat menentukan gagasan yang terbaik buat dirinya atau pun golongannya, tapi apakah semua orang mampu mewujudnyatakannya dalam tindakan? TIDAK. Yang ada hanya pergulatan-pergulatan pemikiran yang sekedar menjadi orgasme (puncak kepuasan) intelektual saja. Revolusi pemikiran memang penting, tapi jauh lebih penting apabila mampu terejawantahkan dalam tindakan. Revolusi pemikiran tanpa diikuti dengan revolusi dalam tindakan adalah nonsense (omong kosong).
Pemikiran yang revolusioner, progressif dan mencerahkan hanya akan menjadi “benda bersejarah dan akan menjadi fosil” yang tersimpan dalam “museum” kepala kita, yang nantinya juga akan berkarat dan lapuk di makan usia kalau hanya sekedar menjadi wancana diskusi dan objek perdebatan saja. Perubahan itu, tidak cukup untuk dipikirkan, dikaji, didiskusikan atau pun diseminarkan tapi perlu diturunkan ke kaki untuk digerakkan. Sehingga, gagasan perubahan tidak hanya sekedar menjadi mimpi atau pun angan kosong belaka. Sekali lagi, kebenaran, keadilan, kesejahteraan, kedamaian dan term-term lainnya, semua hanya mimpi (omong kosong) jika hanya dipikirkan dan didiskusikan jauh tinggi ke langit bahkan sampai “melewati Tuhan” tapi tak pernah nyata dalam tindakan.
Demikian halnya dengan konsep trilogi IMM, sejauh ini trilogy adalah “objek”  di luar diri kita. Ia (trilogy) hanya sekedar dipikirkan, di diskuksikan dan ditafsirkan kembali agar bisa lebih up to date dengan wacana-wacana kekinian, tapi apakah trilogy sudah menjadi “subjek” dalam diri kita? Sudahkah trilogy menjadi sumber nilai (pandangan hidup) kita? Sudahkah trilogy menjadi ruh dan menyatu dengan raga kita, sehingga sifat dan sikap kita benar-benar mencerminkan hakikat trilogy tersebut? Jika kita mau fear untuk mengakui, mengapa kita sering “menabrak” hakikat trilogy, karena memang ia (trilogy) hanya menjadi objek kajian saja, trilogy tidak menjadi ruh dalam setiap gerakan aktivitas kita. Masalah yang paling substantif dalam hemat penulis, adalah  sejauh mana kita mampu membumikan[1] trilogy dalam karakter pribadi dan konteks kehidupan kita.
Akhirnya, jawaban yang paling arif dan bijak, ada dalam diri kita…memitoskan trilogi ataukah melahirkannya dalam tindakan…





[1] Membumikan dalam konteks ini adalah adanya kesatuan antara pikiran dan tindakan.