JOKOWI DALAM PUSARAN BUDAYA INKONSISTEN: PERSFEKTIF ETIKA POLITIK - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

JOKOWI DALAM PUSARAN BUDAYA INKONSISTEN: PERSFEKTIF ETIKA POLITIK

Thursday, April 10, 2014
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, konsisten artinya tetap, selaras, sesuai. Inkonsisten maksudnya tidak tetap, tidak selaras atau tidak sesuai. Inkonsisten dalam terminologi akhlak artinya sikap tidak teguh pendirian dan tidak konsekuen mempertahankan keyakinan dalam menghadapi godaan atau ujian yang datang menghampiri.
            Dalam bahasa kiasan yang populer di kalangan masyarakat, Inkonsisten disebut dengan ”pucuk aru” yaitu pucuk daun aru yang tinggi selalu mengikuti arah angin, jika angin datang dari arah Barat akan bergoyang ke arah Barat, namun jika datang angin dari arah lainnya, dan  iapun akan mengikuti arah angin itu. Maka apabila ada manusia yang memiliki sikap inkonsisten selalu dianalogikan dengan sikap pucuk aru dan dinyatakan tidak punya pendirian.
            Budaya ”inkonsisten” ini bisa merasuki siapa saja, terutama  para politisi. Hari ini berjanji, esok lusa dikhianati dan diingkari. Bagaikan lirik lagu ” kau yang berjanji- kau yang mengingkari”. Biasanya untuk merespon keinginan masyarakat di satu sisi, dan kuatnya kepentingan pada sisi yang lain, maka janji menjadi tidak sepenuh hati, janji sekedar janji-esok atau lusa diingkari.
            Jika benar, Jokowi pernah berjanji kepada masyarakat Jakarta khususnya ingin mengabdikan seluruh hidupnya untuk Jakarta, mengatasi macet dan banjir begitu janjinya, sesungguhnya pada saat berjanji itu, maka Jokowi telah masuk dalam pusaran budaya inkonsisten. Karena sulit bagi Jokowi untuk mempertahankan janjinya- tentu saja sangatlah sulit- disebabkan Jokowi bukan milik dirinya sendiri, akan tetapi milik partai politik yang mengusungnya menjadi gubernur Jakarta. Ketika kepentingan partai politik ” merebut kekuasaan” semakin menguat, maka janji tinggal janji- eksistensi diri tidak peduli-seribu alasan dicari-cari-tidak teguh pendirian menjadi pilihan.
            Hari ini Jokowi sulit melepaskan diri dari jeratan budaya inkonsisten, karena Jokowi tidak sebagai pemilik dirinya sendiri. Senyuman yang selalu menghiasi hari-harinya sekedar menutupi kerut keningnya berpikir keras-karena ia telah melawan hati nuraninya. Jokowi tidak ingin menjadi orang yang mencla-mencle- isuk kacang sore kedele- ingin menjadi dirinya sendiri-akan tetapi apa yang terjadi-kepentingan partai politik telah memasung kemerdekaan diri-tak kuasa menolak- tuan putri yang  berkehendak, tak mampu menghindar-karena keinginan nyonya besar-kalaulah sudah keinginan nyonya besar- segala janjipun akan dilanggar.
            Masyarakat Jakarta malu angkat bicara, malu tidak terpenuhi ekspektasinya- tidak terjawab keinginan dan harapannya ” Jakarta bebas Macet Bebas Banjir” begitulah mimpi  sambil menghitung hari. Belumlah habis masa sumpah jabatan gubernur DKI- seribu alasanpun dicari-cari. ” rakyat butuh pemimpin negeri ” itulah argumentasi membela diri. ” Dengan Bismillahirrohmanirrohim,- Jokowi siap memimpin negeri-2014 Jokowi Presiden atas restu Megawati”
            Budaya inkonsisten banyak dicontohkan para politisi. hari kemarin partai hanura- esok lusa entah kemana. Semalam di partai Nasional Demokrat –esok lusa sudah minggat. Hampir semua partai mengalaminya- kadernya ada yang lompat sana lompat sini. Tidak ada keteguhan hati. Inilah sesungguhnya deskripsi karakter politisi- tidak adanya konsistensi diri-sangat jauh dari visi dan misi- apalagi ideology dan militansi. Budaya inkonsisten – budaya ingkar janji- tradisi politisi menjelang Pemilu merebut simpati dan empati.
            Jokowi dalam pusaran budaya inkonsisten-budaya inkar janji-ini bukan semata-mata keinginannya, lebih disebabkan kemauan partai yang sangat kuat dengan mengatasnamakan keinginan rakyat. Pantas jika rakyat bertanya : bagaimana Jokowi mampu mempertahankan kemandirian- menjadi dirinya sendiri mengharungi kehidupan ini- jika nanti terpilih menjadi pemimpin negeri ini-sebagai penentu kebijakan Jokowi atau Megawati..?”
            Dalam pesfektif teori kebutuhan, maka Jokowi memiliki need for power lebih besar dari pada need for achievement, Fakta sosial politik membuktikan bahwa Jokowi seolah-olah tanpa beban menerima kebijakan partai ikut bursa capres walau harus meninggalkan Jakarta dengan pekerjaan rumah yang banyak belum terselesaikan. Keinginan berkuasa (need for power) yang tinggi mengalahkan need for achievement ( keinginan mencapai hasil/ prestasi). Pekerjaan rumah kota Jakarta demikian banyaknya, urusan banjir yang melanda Jakarta, kemacetan yang tak kunjung sirna, parkir yang belum tertata, trotoir yang digunakan untuk usaha, pejalan kaki mengalah menanggung bahaya karena harus berjalan dipinggir jalan raya, dan lain sebagainya adalah tugas-tugas mulia yang  ditinggalkan begitu saja. Layaklah jika ada yang berkomentar : “ Bagaimana mungkin mau mengurusi Indonesia, menyelesaikan masalah Jakarta saja tidak bisa!”  Memang yang paling aman bagi Jokowi menghindar dari masalah Jakarta agar tidak ketahuan kalau tidak bisa mengatasinya. Tentu saja alasan yang rasional dan klassik adalah meninggalkan Jakarta untuk memenuhi tugas yang lebih besar yaitu memimpin bangsa. Walaupun alasan itu merupakan argumentasi politis lebih disebabkan need for power  mendapatkan kekuasaan semata.
            Dalam persfektif etika politik, budaya inkonsisten dimaknai spekulatif dan subjektif, tidak objektif, komprehensif dan universal, sehingga budaya ingkar janji tidak istiqomah dipandang sesuatu yang tidak melanggar etika apabila dapat memberikan alasan yang rasional, sistematis, metodologis dan dapat dipertanggung jawabkan. Argumentasi mengingkari janji dikemas dengan pendekatan tuntutan sosiologis dan politis. Sosiologis diarahkan pada ekspektasi masyarakat yang mendaulat. Politis dialirkan pada artikulasi aspirasi rakyat yang dinamis. Padahal budaya  inkonsisten tidak sekedar persoalan etika politik akan tetapi erat hubungannya dengan akhlak yang akan dipertanggung jawabkan tidak hanya di dunia ini akan tetapi juga dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
            Dikotomi yang terjadi membelah persepsi dunia dan ukhrowi menggelitik akal pikiran dan hawa nafsu beragumentasi. Seolah-olah inkonsisten itu soal biasa-biasa saja, sesungguhnya akibat yang ditimbulkan begitu menakjubkan. Janji membuat orang menanti-nanti. Ingkar janji menyia-nyiakan impian dan harapan. Menelantarkan tugas dan kewajiban. Segala keputusan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan, dan  sebagai seorang Muslim akan mempertanggung jawabkan sumua kebijakan di hadapan Allah SWT.
            Masyarakat Jakarta berhentilah berharap- karena Jokowi sudah menyatakan siap ! yaitu siap meninggalkan janjinya untuk Jakarta. Janganlah karena malu tidak terpenuhi ekspektasi- berargumentasi begitu dan begini. Janganlah karena kerelaan hati dan perasaan lantas melepaskan kesalahan yang dilakukan. Wallahu a’lam.

Oleh: Affandi Affan
                                                Penulis adalah 
Ketua Asosiasi Pers Independen Indonesia 
(APII) Kota Medan
dan Mahasiswa Pasca Sarjana
                                                        Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
UMSU Medan

foto: image.google.com