Telaah Kesejahteraan Nelayan di Negara Kepulauan - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Telaah Kesejahteraan Nelayan di Negara Kepulauan

Friday, April 25, 2014
  
Perkembangan budidaya di Indonesia saat ini begitu pesat seiring dengan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah mendorong peningkatan produksi perikanan khususnya untuk produksi budidaya. Dorongan ini dimulai sejak periode Fadel Muhammad yang mencanankan peningkatan produksi perikanan hingga 353% persen pada tahun 2014. Sehingga menstimulasi seluruh komponen, baik pemerintah, swasta dan masyarakat secara bersama-sama untuk turut dalam menyukseskan program yang telah direncankan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi atas penerapannya terhadap teknik budidaya juga semakin meningkat hal ini disadari akibat beberapa hal yang secara terus menurus menjadi kendala dalam melaksanakan atau mempraktekkan model budidaya. Kendala tersebut berasal dari kurangnya pemahaman para pembudidaya untuk menghidari permasalahan-permasalahan yang sebenarnya dampaknya dapat dikurangi.

1.   Dampak Langsung

Berbagai jenis kegiatan budidaya yang telah dipraktekkan oleh masyarakat, secara lansung memberikan pengaruh terhadap lingkungan perairan yang diakibatkan oleh limbah dari pakan/makanan ikan yang diberikan kepada ikan budidaya. Selain limbah pakan tersebut, penempatan budidaya juga memberikan pengaruh terhadap ekosistem sekitarnya seperti terumbu karang yang berada pada lokasi budidaya. Hal ini akan sangat memberikan dampak negatif bagi ekosistem terumbu karang karena akan menghalangi proses fotosintesis karang untuk mendapatkan cahaya atau sinar matahari yang pada akhirnya akan mengalami stress dan kematian karang.

Selain dampak negatif yang dihasilkan oleh budidaya tentu saja dampak positif dari kegiatan budidaya ini juga cukup besar, karena secara lansung memperlihatkan kepada masyarakat hasil dari kegiatan yang mereka laksanakan sebagai upaya untuk kelansungan hidup masyarakat, khususnya Nelayan.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah kondisi sosial masyarakat setempat (local wisdom) dimana akan dilaksanakan kegiatan budidaya. Hal ini sebagai salah satu jaminan keberlansungan kegiatan budidaya agar tidak terjadi persoalan-persoalan yang akan timbul dikemudian hari, akibat perencanaan yang tidak melibatkan masyarakat setempat yang seharusnya dapat diselesaikan sejak awal. Hal ini perlu menjadi perhatian para manager perencanaan pada bidang eco-technopreneur sebagai modal utama dalam menyukseskan perencaanaan.

2.  Dampak Tidak Langsung

Pelaksanaan kegiatan budidaya akan memberikan dampak yang secara tidak lansung mendorong para akademisi untuk melakukan penelitian-penelitian terkait permasalahan yang dihadapi para pelaku budidaya. Selain akademisi, juga turut para pakar teknologi untuk mengasilkan karya demi memudahkan kegiatan budidaya, dan yang terpenting adalah ilmu dan teknologi yang telah dihasilkan mampu memberikan dampak bagi masyarakat untuk peningkatan perekonomian bagi kesejahteraan.

Hal lain yang membuktikan bahwa kegiatan budidaya memberikan dampak positif adalah komitmen Pemerintah yang jauh sebelum pencanangan tentang rencana untuk meningkatan hasil perikanan budidaya adalah penjaminan food security pada unit usaha budidaya di hulu (on farm), maka dikeluarkan regulasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan Yang Baik (Good Aquaculture Practice), dimana dalam pelaksanaannya mengacu pada regulasi teknis Surat Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya Nomor : KEP.44/DJ-PB/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Sertifikasi CBIB. Melalui ke-dua regulasi tersebut, maka setiap unit usaha budidaya diwajibkan menerapkan Kaidah-kaidah CBIB dalam setiap rangkaian proses produksi. Bahkah Ditjen Perikanan Budidaya, dalam hal ini Direktorat Produksi telah menetapkan target sertifikasi CBIB sebagai indikator kinerja kegiatan (IKK) (www.djbp.kkp.go.id).

Sertifikasi CBIB dilakukan sebagai upaya untuk untuk memberikan jaminan terhadap unit usaha budidaya yang telah menerapkan CBIB dan dapat memperoleh sertifikat CBIB yang menyatakan bahwa produk budidaya yang dihasilkannya aman untuk dikonsumsi.

Budidaya mampu memberikan efek yang luar biasa kepada banyak masyarakat Indonesia (multiflier effect), hal ini membuktikan bahwa kegiatan ini mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi Negara. Tinggal bagaimana seluruh stakeholder saling bahu membahu mempertahankan ritme dalam menjalankan kegiatan budidaya untuk keberlanjutan.

Keberhasilan budidaya perikanan di Nusantara tidak terlepas dari kompetensi sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan konsep-konsep di bidang pembudidayaan, sehingga hal ini patut diapresiasi sebagai salah satu aset bangsa. Tetapi pernakah kita berfikir bahwa dengan luas lautan yang mencapai 5,8 juta km2, Indonesia mampu mengahasilkan produksi perikanan yang jauh lebih tinggi (high production) dari apa yang dihasilkan sekarang. Penulis tidak bermasksud untuk mengesampingkan budidaya perikanan tapi potensi yang dimiliki Indonesia jauh lebih diatas pencapaian budidaya perikanan hari ini.

Kegagalan Indonesia untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan yang dimiliki dan melakukan pembiaran terhadap pencurian ikan (Illegal fishing) di berbagai lokasi jelas mencoreng dan memiskinkan nelayan. Secara kompetensi dalam hal penangkapan ikan, masyarakat nelayan Indonesia jauh lebih memahami persoalan kondisi perairan sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pembatasan terhadap masyarakat neyalan untuk memanfaatkan seluruh wilayah pengelolaan perikanan (WPP) kepada nelayan-nelayan Indonesia untuk melakukan aktifitas di wilayah tersebut.

Pembatasan aktifitas yang dirasakan oleh masyarakat adalah sulitnya pengurusan untuk mendapatkan izin penangkapan, bantuan masyarakat yang tidak tepat sasaran, hal inilah yang sering terjadi sehingga harapan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tidak dapat tercapai.

Kalkulasi dan hitungan ekonomi telah banyak dilakukan oleh para pakar tentang kerugian Negara akibat pencurian ikan, yang nilainya cukup mengherankan mencapai Rp. 300 triliun (data BPK 2012).  Jika tidak segera ditindak lanjuti maka kemiskinan akan tetap menjadi bayang-bayang masyarakat nelayan Indonesia.

Dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan untuk menciptakan strategi dalam menanggulangi kondisi seperti ini. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menciptakan dan mewujdukan agar masyarakat nelayan Indonesia secara bertahap mencapai kesejahteraan. Kita sadar bahwa kondisi ini sangat membahayakan, lalu mengapa tidak dapat dihentikan, justru melakukan pembiaran.

Mendukung nelayan Indonesia untuk menjadi pemimpin dan kuat di lautan, memerlukan kapal dan teknologi yang mumpuni untuk dapat bersaing dengan para pelaku Illegal fishing, dengan pendampingan aparat yang cukup. Hal ini akan membantu dan memberikan kekuatan baru bagi nelayan Indonesia untuk percaya diri mengarungi lautan Indonesia dan turut menjaga keamanan di perairan Indonesia.

Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil, tetapi sangat memungkinkan untuk dilakukan karena potensi tersebut telah dimiliki bangsa Indonesia, seperti PT. PAL yang mampu menyediakan kapal dengan peralatan dan teknologi high class, kekuatan Angkatan Laut RI yang telah terus mengupayakan untuk menjadi Angkatan Laut Kelas Dunia (World Class Navy). Tinggal bagaimana pemegang kekuasaan di republik ini mampu menyatukan kekuatan tersebut agar dapat direalisasikan.

Penulis,
Muhammad Nasir
Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Maritim Indonesia
Mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor