Pondasi Maritim Kejayaan Nusantara - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Pondasi Maritim Kejayaan Nusantara

Tuesday, April 15, 2014

Keterikatan seluruh bagian dari sendi kehidupan bangsa ini menjadi sejarah yang tak dapat dipungkiri bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki segala hal untuk dapat menciptakan ide, gagasan dan karya demi mempertahankan ritme kebesarannya agar tetap di pandang sebagai bangsa yang besar. Penjajahan telah mengajarkan banyak hal bagi pribumi untuk menjadi manusia yang sejatinya berjuang demi tempat untuk berpijak di muka bumi.

Setelah meraih kemerdekaan, apa yang telah bangsa lakukan? Pertanyaan ini bukan sekedar untuk menanyakan tentang peristiwa yang telah terjadi 68 tahun silam, tetapi lebih kepada apa yang masyarakat Indonesia telah rasakan sampai hari ini. Apa yang telah diamanatkan undang-undang untuk dilaksanakan oleh para pemimpin bangsa ini telah digeser oleh para penguasa yang menjelma menjadi bagian-bagian kecil dari nusantara.

Peristiwa yang telah berlalu menjadi salah satu bagian untuk tetap berkontribusi memberi makna bagi kebidupan berbangsa dan bernegara. Sejatinya kondisi saat ini memacu semangat para pelanjut tongkat estapet untuk meraih kejayaan Indonesia yang selaras dengan amanat undang-undang mensejahterakan seluruh rakyatnya dari memanfaatkan sumberdaya alam (darat, air dan udara).

Ketiga paragraf sebelumnya merupakan penafsiran dari sebuah perjalanan waktu, dan pertentagan atas kondisi alam dengan manusia yang menggantungkan hidupnya di Nusantara. Selanjutnya apa yang akan dilakukan untuk Nusantara kedepan?

Sebuah tantangan besar bagi para pelanjut dan penerus bangsa ini untuk tetap mempertahankan Indonesia sebagai bangsa yang besar, hal ini dikarenakan Indonesia tidak lagi dalam kondisi melawan penjajah belanda ataupun jepang, melainkan melawan para penjajah di negeri sendiri. Hal ini disampaikan Bapak Proklamator Indonesia Ir. Soekarno, jauh sebelum kondisi ini terjadi dimana masyarakat hari ini telah merasakan pahitnya dijajah oleh bangsa sendiri.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Bung Karno

Hal yang patut untuk kita renungkan kembali, bahwa selama ini apa yang telah dilakukan bisa jadi adalah sebuah kekeliruan yang berkepanjangan sehingga kata kesejahteraan bagi seluruh rakyat tak dapat diwujudkan. Ini berarti ada langkah yang patut ditempuh untuk mengembalikan tujuan tersebut.

PARADIGMA NUSANTARA

Berangkat dari sebuah penafsiran tentang kekinian Indonesia yang apabila diamati berdasarkan kondisi geografisnya menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara laut (ocean country) yang didalamnya terdiri dari belasan ribu daratan-daratan kecil yang kemudian disebutkan dalam undang-undang sebagai negara kepulauan. Hal inilah yang sampai hari ini kebanyakan masyarakat Indonesia belum memahami bahwa ternyata 2/3 dari seluruh wilayah Indonesia adalah laut.

Kekeliruan inilah yang terjadi selama ini, dimana aturan, regulasi dan kebijakan didominasi oleh ketidakpahaman tentang kondisi geografis bangsa, sehingga arah pembangunan Indonesia tidak pada lintasan yang mendukung untuk menyetarakan kesejahteraan di seluruh pelosok nusantara. 
Pemahaman ini bukan untuk mendikotomikan paradigma ataupun cara berfikir dalam pembangunan bangsa, melainkan kepatutan setiap warga negara untuk memahami kondisi bangsa yang sebenarnya. Bahwa indonesia terlahir sebagai bangsa yang memiliki laut begitu luas dengan segala potensi yang terkandung di dalamnya merupakan anugerah yang seharusnya menjadi kekuatan perekonomian untuk sebuah bangsa yang besar.

POTENSI ALAM NUSANTARA

Kekayaan nusantara tak akan ada habisnya untuk selalu menjadi kebanggan bagi setiap warga negara karena memiliki 17.504 pulau yang bertabur dari Sabang sampai Merauke, kekayaan inilah yang patut dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat, lebih jauh potensi dari setiap pulau memiliki nilai ekonomis yang mampu mengangkat dan mendorong perekonomian masyarakat terlebih yang hidup di 95.181 km panjang garis pantai Indonesia.

Potensi lainnya adalah bersumber dari pertambangan dan energi, 70 persen minyak dan gas bumi diproduksi di kawasan pesisir dan laut. Dari 60 cekungan yang potensial mengandung migas, 40 terdapat di lepas pantai, 14 di pesisir, serta hanya enam di daratan. Potensi cekungan-cekungan tersebut diperkirakan menghasilkan sebesar 11,3 miliar barel minyak bumi. Sementara gas bumi tercadang sekitar 101,7 triliun kaki kubik.

Di lepas pantai barat Sumatera, Jawa Barat bagian selatan dan bagian utara Selat Makassar telah ditemukan pula jenis energi baru pengganti BBM, berupa gas hidrat dan gas biogenik dengan potensi melebihi seluruh potensi migas.

Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki potensi budi daya rumput laut yang besar. Walau hanya mengusahakan 32.000 ha (kurang lebih 30 persen total potensi), ditaksir dapat memproduksi sekitar 160 juta kg rumput laut kering per tahun, dengan nilai sebesar Rp 1,1 triliun per tahun (harga Rp 7.000/kg). Seandainya diproses menjadi beragam semi-refined products (karaginan, alginat, agar, makanan, minuman) atau refined products (bahan pencampur shampo, coklat, es krim, milk shake, permen, pasta gigi, salep, pelembab, lotion, industri cat, tekstil), nilainya akan berlipat ganda sehingga mencapai multiplier effects bagi pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Hal tersebut belum termasuk komoditas lain yang mempunyai harga tinggi dan dibutuhkan pasar domestik, seperti udang, tuna, kerapu, ikan hias, kerang mutiara, teripang.

STRATEGI MEMBANGUN NUSANTARA

Keberanian untuk berbuat dan mengambil langkah nyata dalam pengimplementasian paradigma tentang pembangunan ke arah laut bukanlah hal yang mudah namun bukan berarti tidak dapat terwujud. Optimisme perlu di bangun dalam setiap diri masyarakat Indonesia untuk berani menentukan sikap, bahwa Indonesia adalah Negara Lautan. Keberanian dari para penentu kebijakan agar political wiil dari sebuah pembangunan juga sepatutnya mendukung untuk mensejahterakan masyarakat dari potensi lautan yang dimiliki bangsa ini.


MUHAMMAD NASIR
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor 

Foto: Robert  Mangindaan (responses to emerging maritime security issues)
http://www.fkpmaritim.org