HIMAIKEL STIPER KUTIM Dorong Pemda Garap Kelautan - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

HIMAIKEL STIPER KUTIM Dorong Pemda Garap Kelautan

Saturday, May 3, 2014

Kutai Timur (Kutim) merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Timur yang dikenal dengan kekayayan SDA terutama dibidang tambang dan pertanian kelapa sawit, yang menempatkan Kutim menjadi salah satu kabupaten terkaya di Indonesia bahkan APBD Kutim mencapai 3 triliun, lebih tinggi dari APBD Kota Makassar yang hanya sekitar 2 Triliun , namun hal ini tidak seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyrakat, terutama di wilayah pesisir.
Hal inilah yang mendorong mahasiswa kelautan yang terhimpun dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan Sekolah Tinggi Pertanian (HIMAIKEL-STIPER) Kutim, melakukan seminar Kelautan dan sosialisasi jurusan Ilmu Kelautan di Gedung Serbaguna Kawasan Perkantoran Bukit Pelangi Kutai Timur 30/04/2014.
Dengan tema “Pengembangan Potensi Kelautan Kutai Timur sebagai Tumpuan Ekonomi Dimasa Mendatang” mahasiswa mengharapkan pemerintah dapat membuka mata untuk melakukan terobosan secara cepat agar Kutim siap beralih kesektor kelautan dan tidak lagi mengandalkan tambang sebagai potensi utama dalam menunjang perekonomian Kutim.
Ketua HIMAIKEL mengatakan “Sepuluh atau dua puluh tahun mendatang tambang di Kutim akan habis, karena berasal dari sumber daya alam non hayati yang tidak dapat diperbaharui (non renewable energy), sementara sumur-sumur bekas galian tambang tidak dapat lagi dijadikan lahan pertanian, sehingga alternatif yang paling memungkinkan adalah beralih ke sektor kelautan”.
Ketua Jurusan Ilmu Kelautan Stiper Saiful Azhar mengungkapkan “Potensi kelautan Kutim hanya sekitar 20% yang terkelola, sementara kabupaten ini memiliki potensi besar dimana panjang garis pantai mencapai 125 Km dengan 27 pulau kecil yang tersebar di tujuh kecamatan”.
Seminar yang juga dihadiri kepala dinas kelautan dan perikanan Kutim dan beberap dosen Stiper serta ratusan mahasiswa, siswa/i SMA serta bebrapa orang dari kalangan masyarakat dan nelayan di kutim, juga turut mengkritik kurangnya infrastruktur bagi nelayan terutama pelabuhan ikan dan penampungan ikan sementara jumlah pelabuhan Batu Bara terus bertambah bahkan disinyalir ada sekitar 20 pelabuhan batu bara disepanjang pesisir Kutim.
Hal ini diakui oleh kepala dinas kelautan perikanan Kutim bahwasanya pelabuhan ikan dikutim baru sementara dalam pembangunan, beliau juga mengungkapkan sementara ini Kutim sedang menggenjot sector rumput laut, dimana kondisi perairan kutim sangat potensial untuk pengembangan rumput laut, beliau juga meminta agar Stiper dapat berkolaborasi dalam melakukan terobosan dibidang kelautan.(Sul)