Cita-Cita Kita Bukan Sekadar Macan Asia, Tapi Raksasa Ekonomi Kelautan Dunia - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Cita-Cita Kita Bukan Sekadar Macan Asia, Tapi Raksasa Ekonomi Kelautan Dunia

Wednesday, June 25, 2014
Bersama :  
Prof. Dr. Ir Rokhmin Dahuri, MS. 
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan

Jakarta- Debat Calon Presiden (Capres) yang mengangkat tema Politik Internasional dan Ketahanan Nasional, Minggu (22/6) malam WIB lalu berlangsung sengit dan menyinggung sektor kelautan. Joko Widodo Capres nomor urut dua dalam paparannya berulang-ulang menyampaikan gagasan tentang betapa pentingnya penyelamatan sumber daya maritim dan perikanan Indonesia. Sampai-sampai Jokowi berjanji akan menggunakan pesawat tanpa awak (drone) untuk mengamankan sektor ini. Kenapa?
 

Menurut Prof. Dr. Rohkmin Dahuri, MS pakar kelautan Indonesia mengungkapkan bahwa sektor kelautan Indonesia adalah raksasa ekonomi dunia yang masih tertidur dan kurang mendapat sentuhan.
 

Padahal jika dikalkulasi, hampir 70 persen total perdagangan dunia berlangsung diantara negara-negara Asia Pasifik. Dan lebih dari 75 persen diantaranya diperdagangkan melewati laut-laut kita, ungkap bekas Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden Megawati Soekarno Putri.
 

Berikut petikan wawancaranya:

Kenapa Jokowi menitikberatkan perhatiannya pada sektor kelautan?
Karena cita-cita kita bukan sekadar menjadi macan asia, tetapi bagaimana menjadikan Indonesia sebagai raksasa ekonomi kelautan dunia. Sebab, negara ini merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan ¾ luas wilayah negara kita adalah laut. 


Jika menilik apa yang disampaikan Walter Isard, peraih Nobel dari Cornel University yang mengatakan bahwa; geography is destiny.  Artinya, konstelasi suatu negara menentukan nasib bangsa itu sendiri. Nah pak Jokowi dan Jusuf Kalla sudah menyadari betul konstelasi geopolitik dan geoekonomi Indonesia.
 

Analisis ekonominya bagaimana?
Begini, kita tahu Indonesia selama ini tidak punya daya saing. Itu karena paradigma pembangunannnya terfokus di darat. Hal itu membuat ongkos produksi kita menjadi yang termahal di dunia. Analisis kami mahalnya biaya itu disebabkan hampir 100 persen barang ekspor kita tidak bisa langsung dikirim ke luar negeri melalui Pelabuhan Tanjung Priok, tetapi harus melalui Singapura.


Tidak hanya keluar negeri, transportasi barang dalam negeripun sangat mahal. Contohnya, satu kontainer barang jika dikirim dari Jakarta ke Ambon biayanya dua kali lipat lebih mahal ketimbang jika (kontainer yang sama) Singapura mengiri ke Los Angeles, Amerika Serikat.  


Jadi, berapa idealnya ongkos produksi harus ditekan?
Kalau melihat ongkos produksi di seluruh dunia, rata-rata saat ini maksimal hanya 10 persen, tetapi Indonesia mencapai 24 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto).


Selain masalah ongkos produksi, apa kerugian lain yang dialami Indonesia di sektor kelautan?
Banyak, seperti masih menjamurnya aktivitas ilegal  di laut. Menurut catatan Bappenas, setiap tahun Indonesia kehilangan minimal 300 triliun akibat pencurian ikan, pembalakan liar, penyeludupan, perampokan, dan lain sebagainya.


Bagaimana strategi untuk mengantisipasi persoalan ini?
Untuk memonitor aktivitas ilegal laut, seperti yang disampaikan pak Jokowi, kita harus menggunakan peralatan canggih dan efisien, yakni drone (pesawat mata-mata tanpa awak) dan segenap kemampuan militer kita.


Sementara dalam hal infrastruktur, untuk jangka pendek, upgrade dulu pelabuhan-pelabuhan utama agar berkelas internasional. Selain meng-upgrade pelabuhan, langkah lainnnya adalah membangun pelabuhan baru supaya arus transportasi laut lebih efisien. Di wilayah barat, titiknya ada di Batam atau Anambas dan Sabang. Di wilayah tengah masih dikaji lokasinya, sementara di wilayah timur ada tiga yaitu Bitung, Morotai, dan sekitar Biak (Papua) serta di wilayah tenggara (timur selatan) bisa di Tual atau Yamdena agar lebih efisien dengan Australia.


Secara garis besar, kita akan membuat semacam sabuk kemakmuran. Dengan adanya pelabuhan, akan dibangun kawasan industri terpadu sehingga rantai produksi ekonomi lain ikut bergerak.


Menurut kalkulasi anda, berapa potensi ekonomi sektor maritim kita?
Potensi ekonomi sektor kelautan kita sungguh sangat luar biasa besar. Apalagi seiring bergesernya pusat kegiatan ekonomi dunia dari poros Atlantik ke poros Asia Pasifik.
Dan Indonesia sebenarnya merupakan jantungnya. Sebab lebih dari 75 persen dari barang yang diperdagangkan ditransportasikan melalui laut, terutama melewati Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makasar dan laut-laut Indonesia lainnya dengan nilai sekitar US$ 1.500 triliun setiap tahunnya. 


Melihat potensi itu, sudah semestinya Indonesia bukan lagi sebagai negara konsumen melainkan negara produsen, yakni menjual barang dan jasa melalui rantai transportasi global itu. 


Apa yang harus dilakukan agar kesadaran akan pentingnya sektor maritim tumbuh di Indonesia.
Banyak cara, salah satunya seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan yang tergabung dalam Forum Maritim Hebat (FMH). Salah satu tim khusus yang baru-baru ini di deklarasikan oleh Masady Manggeng dan kawan-kawan penggiat masalah kelautan untuk melakukan sosialisasi dan menjaring aspirasi masyarakat terkait kelautan sebagai menjadi bahan masukan Jokowi-JK nanti ketika terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.