Menakar Motif Pembelotan ‘Ring Satu’ Gerindra ke Jokowi. - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Menakar Motif Pembelotan ‘Ring Satu’ Gerindra ke Jokowi.

Sunday, June 8, 2014
Jakarta - Sikap yang diambil Muhammad Harris Indra, pendiri sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra cukup menggemparkan publik. Alasan pembelotannya yang sederhana membuat banyak kalangan bertanya-tanya, apa motif dari manuver politik ini?

Banyak yang percaya, tetapi ada juga yang curiga. Apalagi hingga kini di partai asalnya Harris belum berstatus dipecat ataupun mengundurkan diri. Hasyim Djojohadikusumo, adik kandung Calon Presiden Prabowo Subianto Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra di berbagai kesempatan hanya akan menjanjikan sanksi, namun belum jelas dalam bentuk apa. Padahal seperti diketahui, Gerindra merupakan salah satu partai yang sangat tegas pada kader yang tidak loyal. Sehingga sikap menggantung ini mengundang tanda tanya.

Pembelotan bukan sejarah baru dalam dunia politik. Sejumlah kisah terkait kasus ini meninggalkan banyak catatan kaki untuk rujukan dari masa ke masa. Ada pembelot yang dilandasi kejujuran karena terpanggil mengikuti naluri kebenaran, adapula yang didasari kepentingan lain. Seperti menyusup untuk melakukan mata-mata dan motif lain dengan merusak dari dalam. Namun apakah Harris punya sikap demikian?

Politisi muda jebolan Universitas Prof. Moestopo Beragama Jakarta ini dikenal sebagai sosok yang teguh pada prinsip. Ia kerap bersuara lantang jika ada yang tak sesuai hati nuraninya, meskipun terkait partainya sendiri. Dia pernah mengajukan protes pada Prabowo karena kesal setelah memberhentikan sejumlah rekannya pada tahun 2012 lalu. Caleg Dapil III Jawa Barat ini tidak segan menyebut kebijakan pemberhentian Fami dari ketua bidang Ilmu Pengetahuan DPP Gerindra sebagai tragedi demokrasi partai.

Bagi Harris loyalitas pada partai bukan dalam artian kesetiaan pada individu melainkan terhadap gagasan untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan bermartabat. Sehingga walaupun mendukung Jokowi, salah satu penggagas Partai Gerindra ini belum berniat sedikit pun untuk pindah partai. Namun ia tetap akan lapang dada jika sewaktu-waktu partai memecatnya.

Pertanyaannya kenapa harus Jokowi? Harris jatuh hati pada sosok bekas walikota Solo ini berawal dari hal yang sangat sederhana. Tapi baginya hal kecil itu tidak dapat dimaknai sepele, karena dari situlah kita dapat menilai kemurnian sikap seseorang. Kejadian yang paling membekas di pikirannya itu terjadi ketika Harris bersama Fadhli Zon dan teman-teman Gerindra berkunjung pada acara tiga harian meninggalnya Taufik Kiemas di kediaman Megawati Jalan Teuku Umar Jakarta Pusat.

Saat itu, kisahnya, Ia sedang dalam posisi berdiri di tengah banyaknya orang. Namun tiba-tiba Harris ditarik oleh seseorang yang tidak dikenalnya dan menawarkan tempat duduk kepada anak muda ini.

“Anda tahu siapa dia? Dia adalah Jokowi, Gubernur DKI Jakarta. Sungguh sangat humanis,” kenang Harris, yang sebelumnya mengaku belum begitu detil mengenal karakter Jokowi.

Baginya, sikap melayani dan humanis adalah syarat ideal seorang pemimpin. Tidak mudah menemukan karakter ini pada pejabat atau elit Indonesia. Yang memang kebanyakan lebih suka dihormati dari pada menghormati, lebih suka dilayani daripada melayani.

Uniknya, sikap Jokowi tersebut murni tidak dalam rangka pencitraan, karena tidak dilihat banyak orang dan tidak diliput media atau televisi seperti yang diklaim sejumlah kalangan selama ini.

Masihkah ada keraguan akan pembelotan ini? *silahkan dijawab dalam kolom komentar.