Timses Prabowo-Hatta Jatuh Saat Kampanye, Pertanda Apa? - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Timses Prabowo-Hatta Jatuh Saat Kampanye, Pertanda Apa?

Saturday, June 7, 2014


Jakarta - Teguh Juwarno, salah satu juru kampanye dari pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta, terjatuh usai menyampaikan orasinya di hadapan jamaah pengajian bulanan Muhammadiyah tadi malam WIB (6/6/2014). 

Hal itu cukup menarik perhatian peserta diskusi yang menyesaki Aula gedung Dakwah Muhammadiyah di jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat. Beruntung sang jurkam tidak terpelanting ke bawah karena tinggi panggung tidak lebih dari 20 cm. selain itu, posisi duduk Teguh saat kembali ke kursinya setelah menutup pidato membelakangi dinding sehingga kursi yang terpeleset ke bawah bertahan.

Suasana antusias sebagian peserta diskusi sontak berubah dari tepukan tangan menjadi riuh dengan sorakan dan celotehan. Sejumlah audiens menyebut fenomena itu sebagai 'pertanda.' Yang menjadi pertanyaan, apakah pertanda baik atau buruk?

Kejadian ini bagi sebagian kalangan mungkin saja sepele, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut bisa saja merupakan sinyal dari langit, yakni Yang Maha Kuasa.

Contoh kasus, mitos tentang foto berbingkai kaca atau gelas yang jatuh hingga di zaman modern ini masih sering dihubungkan dengan pertanda akan datangnya musibah. Kode alam ini tidak hanya berlaku di Indonesia juga masih dipercayai oleh sebagian besar masyarakat dunia. Buktinya, fenomena itu masih banyak diadopsi oleh beberapa film baik dalam dan luar negeri, untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dalam hal ini acapkali dikaitkan dengan kecelakaan atau musibah lainnya.

Namun apakah hal ini berlaku pada momentum Pilpres?. Jika benar maka akan ada sinyal buruk dalam hal ini bisa saja bermakna tanda kekalahan di pihak Prabowo-Hatta.

Sekedar catatan, indikator teranyar hingga H-31, Jokowi-JK masih unggul di sejumlah kota besar Indonesia. Lingkaran Survey Indonesia (LSI) pada Rabu (4/6/2014) lalu merilis sample kecendrungan pemilih di sejumlah provinsi berpenduduk tebanyak di Indonesia diantaranya DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara, dominan mengungulkan Jokowi-JK.

Dari tujuh sampel provinsi itu, pasangan nomor urut satu hanya unggul di dua daerah saja yakni DKI Jakarta dan Banten. Masing-masing dengan presentase 35 persen berbanding 30,66 persen untuk capres-cawapres urutan dua. 

Sementara lima provinsi lainnya; Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara masih dikuasai Jokowi-JK. Di Jawa Tengah, Capres-Cawapres yang diusung PDI-P, Nasdem, PKB dan PKPI ini unggul jauh, yakni 38,57 persen berbanding 15,54 persen milik Prabowo-Hatta. Hal serupa juga terjadi di Jawa Timur, dengan elektabilitas 31,71 persen, sedangkan Prabowo-Hatta hanya meraup 21,49 persen.

Untuk zona barat da timur Indonesia yang direpresentasikan oleh Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, elektabilitas Jokowi-JK mencapai 48,16 persen dan 43,75 persen.  Prabowo-Hatta hanya menembus 16,38 persen dan 19,25 persen. 

Jika ditanggapi positif, hasil survey ini akan menjadi salah satu parameter yang menunjukkan bahwa masih ada 'PR' besar bagi calon urut satu untuk memacu kecepatan mengejar ketertinggalannya.

Namun terlepas dari itu semua, analisa ini tetap bukan indikator mutlak dengan skala 100 persen tingkat kepercayaan. Karena hanya analisa, atau penerawangan dengan penggabungan mitos dan data. Semacam preview jelang pertandingan sepak bola. Boleh percaya, boleh tidak.

Jika ditilik dalam perspektif agama, semua kejadian tidak ada yang sia-sia, semua pasti ada hikmahnya. Mungkin hal itu berlaku pada peristiwa unik dalam diskusi yang bertajuk 
`menakar capres-cawapres perspektif tujuh kriteria Muhammadiyah`.

Acara ini dimoderatori oleh 
Chusnul Mariyah, mantan Anggota KPU, dengan menghadirkan panelis Dradjad Wibowo dan Teguh Juwarno dari kubu Prabowo-Hatta serta Imam Sugema dan Fariza Irawadi utusan Jokowi-JK.

Ataukah hanya lelucon saja? *senyum simpul.


Analis Ipubika.