Isu Pilkada Dan Negara Keledai - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Isu Pilkada Dan Negara Keledai

Tuesday, September 30, 2014
Di era reformasi kita kembali mengulangi kesalahan era Orde Lama. Nuansa "bottom up" kembali terlalu kuat mewarnai kehidupan negara, yg melemahkan institusi & fungsi negara. Akibatnya, negara tak bisa bergerak, "maju kena, mundur kena".

Tak ada pembangunan industri & infrastruktur untuk menciptakan kesejahteraan rakyat, lantaran lemahnya institusi & fungsi negara.

"Memang nasib bangsa kita telah ditakdirkan menjadi bangsa yg lebih bodoh dari keledai".

Di era Bung Karno, kehidupan bernegara diwarnai dominannya nuansa "bottom up" yg sangat ekstrem. Arus bawah masyarakat sipil yg sangat kuat berakibat pada melemahnya fungsi negara mewujudkan tujuan negara.

Bung Karno hanya bisa bergerak mewujudkan agenda pembangunan fisik setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden RI tahun 1959 untuk Kembali ke UUD 1945.

Di era Soeharto, nuansa kehidupan negara berbalik arah 190 derajat, diwarnai "top down" yg sangat ekstrim. Stabilitas politik & keamanan terjaga demi jalannya pembangunan. Akibatnya, mematikan kemerdekaan masyarakat dalam berkespresi & berpartisipasi.

Ke depan, kita harus mulai menemukan sintesa antara Orde Lama & Orde Baru dengan Orde Reformasi untuk tujuan menata sistem negara yg melahirkan keseimbangan kekuatan antar negara dengan masyarakat sipil.

"Kita butuh keseimbangan politik baru, 50 % top down dari negara, 50 % bottom up dari partisipasi masyarakat".

Kita tak boleh lagi membangun negara dengan ekstrem "top down", juga tak tepat sistemnya terlalu ekstrem "bottom up".

Jika kita menuntut masyarakat sipil lebih kuat dari negara, lalu yg kuat ternyata masyarakat Islam & menang pada Pemilu seperti terjadi di Mesir pasca Husni Mubarak, pasti sebagian dari kita menolak bukan?

Dengan Pilkada oleh DPRD, yg didahului Pemilu Legislatif yg dipilih secara langsung & jurdil, maka keseimbangan politik tersebut akan mulai kita tata kembali.

Penulis: Haris Rusly
Petisi 28