Trauma Litbang Kompas Terkait Takaran Negara Kuat Dan Pilkada DPRD - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Trauma Litbang Kompas Terkait Takaran Negara Kuat Dan Pilkada DPRD

Monday, September 29, 2014
Daniel Dakidae (Litbang Kompas) dalam sebuah pidato menanggapi visi misi Capres 2014, yg dimuat Kompas cetak (Senin, 7/7/2014), halaman 12, berjudul "Membulatkan Lingkaran Kekuasaan: Perjalanan dari Negara Kuat ke Masyarakat Kuat, Godaan & Konsekuensi kembali ke Negara Kuat".

Dalam pidato tersebut, Daniel terkesan trauma bila arus sejarah kembali ke negara kuat. Bagi Daniel masyarakat sipil harus lebih kuat dari negara.

Pandangan berbeda muncul dari Francis Fukuyama, intelektual penulis buku legendaris The End of History and the Last Man (1992), yg menjelaskan arus perputaran sejarah pasca komunisme, di mana liberalisme tak lagi memiliki musuh yg tangguh.

Pada 2004, Fukuyama menulis buku yg cenderung menetang tesisnya di atas, judulnya "Memperkuat Negara, Tata Pemerintahan & Tata Dunia Abad 21" (Gramedia, 2005). Buku tersebut memang ditulis Fukuyama pasca tragedi 11 September 2001.

"Meluasnya gerakan fundamentalisme agama & terorisme, kriminalitas, kejahatan ekonomi para mafia & sindikat perampok kekayaan negara, perang sipil & konflik horisontal, hanya akibat saja dari terlalu kuatnya pasar & masyarakat sipil, yg secara otomatis melemahkan negara".

Kita tak membenarkan negara terlalu kuat seperti era Orde Baru yg mematikan kemerdekaan berpartisipasi. Tapi, kita juga tak menghendaki terlalu adidayanya pasar & masyarakat sipil seperti di era reformasi yg berakibat pada lemahnya sistem negara.

Kita menghendaki adanya keseimbangan kekuatan antara negara dengan sistem yg tertata & terpimpin, dengan masyarakat sipil yg berkesadaran & pasar yg bertanggungjawab.

Dikembalikannya Pilkada oleh DPRD sebetulnya adalah upaya menata ulang sistem negara untuk mengimbangi kekuatan masyarakat sipil yg makin mekar, serta pasar bebas ekonomi yg mulai tak terkendali.

Kita harus menemukan sintesa antar periode reformasi yg serba bebas dengan periode Orde Lama & Orde Baru.

Penulis: Haris Rusly |Petisi 28