Wukuf 3 Oktober, Muhammadiyah Lebaran 4 Oktober - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Wukuf 3 Oktober, Muhammadiyah Lebaran 4 Oktober

Tuesday, September 30, 2014
Logo Muhammadiyah
Makassar-Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan waktu pelaksanaan Wukuf 9 Zulhijjah 1435 Hijriyah jatuh pada hari Jumat 3 Oktober 2014. Wukuf adalah puncak atau inti dari pelaksanaan ibadah haji yang dilaksanakan di Padang Arafah. Wukuf juga dijadikan sebagi standar penetapan waktu idul adha di negara-negara lain di satu hari setelah wukuf.
  
Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Dr. Ali Parman menjelaskan bahwa berdasarkan hitungan  hisab (wujudul hilal), baik itu di Makassar, Jawa maupun di Mekkah tinggi hilal datanya sama dengan hasil rukyat yang di Arab Saudi. “Hasil perhitungannya, tanggal 24 september hilal sudah di atas ufuk pada waktu matahari terbenam, sehingga dapat disimpulakn bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada hari berikutnya di tanggal 25 september,” tandasnya.

Prof. Ali Parman melanjutkan, dengan menggunakan metode rukyat, di Indonesia hilal tidak bisa dilihat pada pemantauan pada tanggal 24  September, karena tinggi hilal yang belum sampai kriteria dua derajat. Sehingga bulan Dzulqaidah digenapkan sampai tanggal 25 September. Oleh karena itu maka secara kesimpulan dari metode rukyat ini menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah nanti jatuh pada tanggal 26 september 2014 atau 10 Dzulhijjah nanti jatuh pada tanggal 05 oktober 2014.

“Mekah sendiri juga menggunakan metode rukyat, dengan kriteria yang sama, akan tetapi tahun ini bulan Dzulqaidah tidak diistiqmalkan sehingga penetapan 01 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 25 september. Wukuf  tanggal 09 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 3 oktober dan sehingga Idul Adha jatuh pada keesokan harinya, 4 Oktober 2014. “Bagi saya, ini indikasi bahwa metode hisab juga sudah mulai digunakan di Arab Saudi,” urai Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar ini.
“Disunnahkan bagi kita yang tidak sedang menunaikan ibadah haji untuk berpuasa arafah pada hari wukuf tanggal 9 Dzulhijjah, kemudian lebaran pada 10 Dzulhijjah serta selanjutnya masuk pada hari Tasyriq pada tanggal 11-13 Dzulhijjah. Harusnya pemerintah menganulir pengumumannya menjadi hari Sabtu, karena wukuf yang di hari jum’at,” tambahnya.

Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, KH. Jayatun  menegaskan bahwa penetapan waktu wukuf di Saudi ini sesuai dengan hasil hisab wujudul hilal yang ditetapkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Hasil hisab tersebut, lanjut Jayatun, menunjukkan bahwa ijtimak jelang Zulhijjah jatuh pada hari Rabu, 24 September 2014 pukul 13: 15: 45 WIB.  
“Ini berarti hilal telah wujud dan 1 Zulhijjah telah masuk pada hari Rabu, 24 September 2014 petang. Sedangkan tanggal 10 Zulhijjah, waktu pelaksanaan Idul Adha, telah masuk pada maghrib 3 Oktober 2014, dan pada tanggal 4 Oktober 2014 pagi masyarakat disilakan untuk beridul adha,”  tandas Direktur Pendidikan Ulama Tarjih Unismuh Makassar ini.

KH. Jayatun menjelaskan bahwa selama ini Muhammadiyah menentukan waktu awal Ramadan, Syawal (Idul Fitri) dan Idul Adha menggunakan metode hisab. Metode hisab ini berlandaskan dari Quran Surah Yunus: 5, dan Yasin: 38—40. Penggunaan metode hisab juga berlandaskan pada hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, “Shumuli ru’yatihii waghfiru li ru’yatihii”. Sayangnya hadits ini selalu dipotong, sehingga seakan-akan hanya memerintahkan metode rukyat untuk digunakan dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Padahal, lanjutnya, Rasulullah juga menambahkan di hadis tersebut jika langit sedang berkabut atau cuaca tidak mengizinkan, maka berhitunglah. Di hadist versi Ibnu Umar, “Faqdhuru”  dalam bahasa Arab juga berarti berhitung. Perhitungan yang dimaksud dilakukan terhadap umur bulan Syaban. 

Terkait perbedaan Hari Raya Idul Adha ini, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Dr. KH. Alwi Uddin, berharap kaum muslimin melaksanakan Idul Adha dengan penuh keyakinan, mengunjungi lapangan-lapangan penyelenggaraan Shalat  Idul Adha seperti di Lapangan Awwalul Islam, Kampus Unismuh Makassar, dan halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. “Soal perbedan itu kan sudah biasa. Itu juga pembelajaran bagi umat yang punya kebebasan untuk mengikuti keyakinannya dan mengikut kepada siapa pun tanpa saling menghujat dan mencela,” ungkapnya. (KR/Hadi).