Cerita dari Masjid Raya Seoul - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Cerita dari Masjid Raya Seoul

Sunday, October 19, 2014
Laporan: Fahman Habibi
Reporter iPublika dari Korea Selatan
 
Masjid Raya Seoul di Itaewon Korea Selatan berhasil menjadi simbol pemersatu umat lintas suku bangsa.  Masjid terbesar di Negara Republik Korea itu dibangun di dataran tinggi, sehingga kita bisa melihat pemandangan gedung-gedung serta pemukiman warga yang didominasi  berwarna putih dengan jelas. Dari sekitar masjid udaranya pun terasa sejuk dan menyegarkan, apalagi pada saat musim dingin di awal Oktober. 

Masjid Raya Seoul ini berdiri kokoh  di atas tanah seluas 4.870 meter persegi. Ukuran  masjid kurang lebih sekitar 427 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar dijadikan tempat aktifitas keagamaan dan kantoran untuk kepentingan dakwah Islam serta disediakan juga ruang auditorium untuk berbagai kegiatan lainnya.

Kita harus menaiki anak tangga beberapa meter menuju ruang utama untuk sholat. Biasanya ditangga ini juga digunakan oleh warga korea  baik muslim atau bukan untuk kepentingan foto-foto, atau bersantai  terutama anak muda yang hobi 'selfie'.

Sebab warga Korea ternyata sangat tertarik dengan tulisan khot berbahasa arab 'Allahu Akbar' yang terpampang jelas di bagian atas masjid dan juga kaligrafi di depan pintu utama. Sekedar untuk diketahui, masjid ini  dibangun atas inisiatif pasukan perdamaian persrikatan bangsa bangsa ( PBB)  asal  Turkey. Sebelumnya tempat ini merupakan tenda pengungsian yang dijadikan sebagai masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah saat bertugas pascaditandatanganinya gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan di tahun 1955. Hingga pada akhirnya, masjid ini dipermanenkan, berkat sumbangan masyarakat muslim yang ada di korea dan juga pemerintah Malaysia yang menjadi donatur  terbesar kala itu yaitu sekitar 33 ribu dolar. 

Panitia yang menjadi penanggung jawab pembangunan masjid ini adalah  gabungan  dari kaum muslim lintas Negara. Baru pada tahun 1963 masjid ini diresmikan. Kemudian pada tahun  1976dinaungi dalam wadah  Korean Muslim Community, yang kemudian berganti nama menjadi Korean Muslim Federation, salah satu lembaga yang sudah diakui oleh pemerintahan setempat.

Adapun anggotanya  adalah semua warga muslim yang tinggal di Korea. Namun yang menjadi Imam dan muazzin tetapnya berasal dari  Indonesia yaitu ustadz Arifin. Beliau memiliki kemampuan menguasai tiga bahasa.
  
Dilingkungan masjid ini juga dibangun sebuah sekolah islam  Taman kanak kanak  bertaraf internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sebab peserta didiknya adalah anak-anak dari lintas Negara dan ada juga yang bukan agama Islam. Meski didalamnya tetap diperkenalkan tentang pengetahuan Islam, tata cara sholat dan membaca Al-qur’an.

Setiap penyelenggaraan sholat Jum’at, Idul Adha dan Idul Fitri, khutbah disampaikan dalam tiga bahasa yaitu bahasa arab, Inggris dan terakhir bahasa Korea. Semua warga muslim  dari Asia, Afrika  dan Timur Tengah serta warga muslim asal Eropa  lainnya membaur menjadi satu dalam ikatan ukhuwah islamiyah. Shalat disini menjadi moment untuk bersilaturrahim antar sesama warga negara masing-masing.

Setelah usai sholat, masjid selalu membagikan satu bungkus susu kotak segar dan satu buah roti bagi setiap jamaah yang datang. Bagi yang ingin menikmati masakan halal juga tersedia café-café dan rumah makan halal dibagian bawah diluar lingkungan masjid.