Fungsi Hutan sebagai “Carbon Trap” ternyata belum Menjadi Prioritas Multisektor - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Fungsi Hutan sebagai “Carbon Trap” ternyata belum Menjadi Prioritas Multisektor

Monday, October 27, 2014
Climate change” atau lebih dikenal dengan perubahan iklim merupakan bukan hal yang baru. Kejadian ini sudah terjadi jutaan tahun yang lalu namun pada saat itu bumi masih mampu beradaptasi terhadapnya. Perubahan iklim yang terjadi saat ini diperparah oleh aktivitas manusia (antropogenic) yang semakin meningkat. 

Salah satu yang paling berpengaruh adalah menurunnya kemampuan ekosistem alami untuk menyerap dan mengikat serta menyimpan karbon. Ini disebabkan oleh belum teratasinya praktek illegal loging, konversi lahan hutan dan kebakaran hutan.
Oleh karenanya, diperlukan upaya-upaya secara intensif mengimbangi aktifitas yang membuat bumi tidak berdaya menghadapi perubahan iklim. Kolaborasi antara pemerintah, institusi, NGO serta stakeholder sangat dibutuhkan baik secara materi maupun dukungan moril. Secara sektoral diperlukan keterpaduan dalam mengelola hutan di wilayah Indonesia agar tetap mempertahankan fungsinya. 

Misalnya upaya pendidikan dan penelitian tentang daya serap karbon pada luasan hutan berdasarkan jenisnya (peruntukan, keanekaragaman spesies, masa hidup dan lain sebagainya). Tidak menutup kemungkinan para ahli pengelolaan hutan dituntut untuk melakukan inofasi dan terobosan baru dalam pemanfaatan hutan sebagai nilai ekonomis namun juga tetap mempertahankan fungsi alami hutan tersebut. Hal ini bukan saja melalui peran sektor kehutanan, melainkan keterpaduan antara kelautan dari segi pesisir yang memilki ekosistem hutan mangrove, perkebunan yang memilki dukungan lahan, pertanian memilki lahan pangan yang produktif.

Konsep-konsep pengelolaan hutan akan lebih baik ketika rumusan strategi yang dilahirkan oleh keterpaduan sektor tersebut. Tetapi, dalam perjalanannya perlu kajian mendalam tentang bagaimana mengelola hutan baik berbasis ekosistem, ekonomi, sosial budaya ataupun berbasis fungsi hutan itu sendiri. Tentunya kajian ini layak dilakukan oleh pakar kehutanan dan dari hasilnya akan menjadi landasan dalam mengembalikan peran hutan secara utuh. 

Pada Pertemuan Ilmiah Tahunan KOMHINDO (Komunitas Manajemen Hutan Indonesia tahun 2014 yang dilaksanakan tanggal 4-5 september 2014 oleh Fakultas Kehutanan Universitas Hasnuddin Makassar, dihadiri oleh stakeholder di bidang kehutanan. Pertemuan ini membahas tentang “Reaktualisasi Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem DAS” menghadirkan Guru Besar di bidang Kehutanan, Kementerian Kehutanan, Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sulwesi Selatan serta pihak instansi dan institusi dari berbagai daerah. 

Dari 56 jenis makalah yang disajikan terbagi dari empat komisi a) Kebijakan Nasional Manajemen Hutan dan Pengelolaan DAS dalam Pembangunan Wilayah, b) Langkah-langkah Strategis Manajemen Hutan Lestari Melalui Pemulihan Daya Dukung DAS, c) Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Manajemen Hutan Lestari dan d) Kehutanan Umum. Namun, pertemuan ini belum menyentuh hal tentang fungsi hutan dalam menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Sajian makalah hasil penelitian belum ada yang menyajikan kajian mengenai peran hutan sebagai penyerap karbon.

Keterbatasan sumberdaya menjadikan permasalahan yang paling urugen dimukabumi ini tidak tercerna dengan baik oleh para peneliti di Indonesia. Pada akhirnya penyebab kerusakan hutan sendiri tidak mampu di antisipasi atau di cegah sekalipun. Tidak heran, jika hutan di wilayah Kalimantan dan Papua semakin menipis. Konversi hutan mangrove menjadi wilayah pertambakan serta aktifitas pembangunan kota pantai mengancam keberadaan hutan mangrove. Itu karena belum ada wadah yang mampu menjembatani keterpaduan sektor dalam mengelola hutan di inonesia. Belum cukup anggaran untuk mengkaji aspek-aspek mikro kehutanan dan memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Alangkah baiknya jika hutan kita di Indonesia berfungsi ganda dengan baik. Memberikan rasa aman bagi masyarakat, tentunya memberikan sumbangsih besar seperti pencegahan erosi banjir, memberikan nilai ekonomi serta menjaga bumi dari ancaman perubahan iklim. Sehingga upaya-upaya yang sifatnya global seperti adanya upah dari negara-negara maju kepada negara yang menjaga hutan sebagai penyumbang oksigen dapat di konsepkan secara terpadu. Agar supaya pengelolaan hutan di Indonesia menjadi tugas nasional dan berdampak internasional.

Penulis: Irwanto
Lembaga Maritim Nusantara [LEMSA]
irwantomarine@gmail.com