Ini Rahasia Korea Selatan Bisa Jadi Negara Maju. - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Ini Rahasia Korea Selatan Bisa Jadi Negara Maju.

Friday, October 17, 2014

Laporan: Fahman Habibi

Reporter iPublika.com dari Korea Selatan.

https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xap1/v/t1.0-9/10351378_10201680025921557_3312451515157833760_n.jpg?oh=b7a45c1b1a633f27d369c9da38cd28e6&oe=54BEFBD6&__gda__=1421846147_e9823b0935a7e1a3e38e042687e7e940

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke negeri Korea Selatan, negara jajahan Jepang selama 35 tahun. Mereka dimerdekakan karena Negeri Sakura itu menyerah pada tentara sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Hanya selisih dua hari dari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun ada perbedaan yang begitu kontras saya rasakan dengan di Indonesia, yang secara kebetulan sama-sama berstatus bekas jajahan Jepang.

Negara yang baru resmi terbentuk pada tanggal 15 Agustus 1948 itu belakangan hanya populer dalam hal entertaintmen, baik music K-pop maupun indahnya kisah drama Korea dengan segala kisah nan mengharu-birunya. Lakonan mereka mampu merebut hati kaum penggila korea di Indonesia.

Padahal disektor lain, kemajuan negeri Gingseng itu juga begitu pesat, jauh meninggalkan Indonesia. Tak ayal, banyak pekerja Indonesia yang tertarik mengadu nasib disana. Tercatat, lebih dari 30.000 tenaga kerja asal Indonesia bekerja dalam berbagai sektor, salah satunya industri. Pendapatan mereka? Lumayan wow untuk ukuran orang Indonesia, yaitu perbulan lebih dari sepuluh juta, jika dirupiahkan.

Sehingga sangat wajar jika Korsel dipandang sebagai sebuah Negara maju dan diperhitungkan percaturan bisnisnya di kawasan asia bahkan tingkat dunia.  Andalan mereka: produk elektronik,otomotif dan kecanggihan sistim informasi.

Kemajuan itu tidak datang dari sulap bin salabin abrakadabra. Tapi banyak faktor yang mempengaruhinya. Sederhana sebenarnya, namun cukup signifikan membawa pengaruh pada kemajuan mereka, diantaranya:

1. Disiplin

Budaya ini seakan tidak dapat dipisahkan dari mereka. Saya perhatikan, setiap pagi semua sudah mulai keluar rumah untuk pergi bekerja maupun kegiatan lainnya. Kemudian mengakhiri aktivitas pada sore hari. Hal itu dapat dilihat dari padatnya jalur kereta bawah tanah subway pada jam-jam pagi hingga pukul 8 malam. Namun lengang pada siang hari.

2. Mencintai lingkungan

Kebiasaan masyarakat saya lihat juga menular pada para pendatang. Terbukti, saat berkunjung ke sebuah aliran air Cheonggyecheon, sejenis kali di Indonesia yang berada di tengah kota Seoul. Air kalinya begitu jernih dan tidak berbau, bahkan kita bisa melihat ikan-ikan kecil di sela-sela bebatuan dan genangan air. Kita bisa mencelupkan kaki ke bibir kali tanpa harus merasa jijik.

Di pinggirannya dibangun jalur untuk pejalan kaki yang menyusuri aliran kali sepanjang kota. Juga disediakan tempat duduk yang nyaman sehingga kita bisa bersantai ria, dimana pada malam harinya dihiasi dengan lampu warna warni. Tidak ada satupun sampah terlihat sejauh mata kita memandang.

3.Taat aturan

Sebagai contoh, tidak pernah kita lihat orang menyeberang jalan kecuali di sekitar zebra cross. Dan belum akan bergerak sampai ada tanda lampu hijau bagi pejalan kaki, meski jalanan dalam keadaan kosong. Bandingkan dengan Indonesia?

4. Tolong menolong

Ini bukan pujian tanpa dasar. Pengalaman saya pribadi, beberapa kali ketika menanyakan arah dan tujuan stasiun dari jalur subway atau kereta bawah tanah yang akan saya naiki, mereka tidak segan-segan membantu mengantarkan saya sampai ke depan pintu kereta. Tidak setengah-setengah, atau sekedar memberi tahu. Padahal terkadang jalurnya terbagi sampai enam jalur dan harus naik turun tangga setinggi tujuh sampai sepuluh meter. 

5. Budaya Malu

Contoh kecil, jika di bangku pojok kereta atau angkutan umum lainnya ada tulisan prioritas untuk ibu hamil,orang cacat dan lansia, maka tidak akan ada satu orang pun yang mau menduduki bangku itu kecuali yang disebutkan (penumpang prioritas). Meskipun kereta dalam keadaan padat dan bangku itu masih kosong. Mereka merasa malu jika harus duduk ditempat itu. Dan lebih memilih membiarkan tempat itu kosong sampai tujuan akhir. 

Dari budaya malu ini, bahkan ada istri salah seorang perdana menteri harus bunuh diri gara-gara terlibat kasus korupsi. Dia merasa bertanggung jawab dan tak sanggup menanggung malu.

6. Ramah

Sering kita dengar, mereka selalu mengucapkan kata anyong haseo untuk menyapa, dan kam sahammida yang berarti Terima kasih jika dibantu. Budaya itu tidak dapat dipisahkan khususnya saat bertamu, berpisah, permisi atau minta maaf hanya untuk numpang lewat dan ingin mengganggu.


7. Tidak mau mengambil hak orang lain

Di Korsel tidak pernah kita dengar ada kabar kehilangan harta benda karena pencurian. Barang apapun jika diletakkan di sembarang tempat dan ditinggal oleh pemiliknya, pasti tetap aman. Sebab tidak ada yang mau mengambil hak orang lain. 

Tebukti, di mini market mereka membiarkan mobil dalam keadaan kaca terbuka dan mesin dalam keadaan menyala tanpa dikunci. 


8. Menjaga kebersihan: 

Di sepanjang kota dan tempat wisata terlihat begitu bersih dan rapi. Tidak ada sampah berserakan, padahal jarak tempat sampah yang satu dengan yang lain terkadang agak berjauhan. Mereka lebih rela memasukkan sampah kedalam tas atau ditenteng sampai menemukan tempat sampah daripada membuang sampah sembarangan. 

Saya sempat menyaksikan pertunjukan tahunan kembang api di sungai Hangang. Ribuan orang tumpah ruah menyaksikan pertunjukan selama satu setengah jam itu. Namun saat bubaran mereka mengumpulkan botol minuman dan sampah di dalam plastic besar yang di sediakan di beberapa tempat. 

Jarang sekali kita lihat sampah berserakan di sembarang tempat. Jika ada sampah yang ditinggal disembarang tempat dapat dipastikan itu sampah yang ditinggal oleh para turis yang tidak bertanggung jawab. Jangan-jangan turis asal asia, atau mungkin Indonesia (ups..)

9. Mencintai produk sendiri

Jika di Indonesia orang lebih senang buatan luar negeri, bertolak belakang dengan orang Korea. Mereka sangat mencintai produk dalam negerinya sendiri.

Dijalanan sepanjang kota, pasti yang kita lihat mobil bermerk Hyunday, KIA, dan Daewoo, produk otomotif buatan Korea. Jarang sekali kita lihat mobil bermerk BMW, Mercedes Benz apalagi Toyota seperti di Indonesia.

Begitupula dalam hal gadget. Di kereta kita bisa melihat handphone merk Samsung tersebar di setiap tangan penumpang. Termasuk dalam hal produk tekstil.

10. Tertib dan memiliki budaya antri.

Saat akan menaiki bis kota, mereka sudah berbaris antri sesuai urutan yang datang terlebih dahulu bahkan sudah berdiri sebelum bis datang. 

Termasuk untuk menyeberang jembatan penyeberangan. Jika dalam kondisi ramai, mereka akan memutar kebelakang hingga jarak dua puluh meter kebelakang, tidak ada yang berani nyelonong ke depan dengan alasan apapun.

11. Mencintai estetika

Masyarakat korea sangat mencintai keindahan. Model dan gaya berpakaian mereka selalu modis, bersih dan enak dipandang mata. Warnanya sesuai, tidak tabrak sana tabrak sini.

Setiap taman dan fasilitas umum yang dibangun selalu dijaga secara bersama-sama dan merasa saling memiliki dan saling menjaga kelestariannya.

12. Penegakan hukum dan kepercayaan kepada pemerintah

Hal itu terjadi karena pemerintah mereka cukup amanah dan memegang prinsip sebagai pelayan masyarakat serta pemberi kesejahteraan.

Namun jika ada pemerintah yang bersalah mereka tidak segan-segan meminta untuk mundur dan melakukan tindakan untuk menjatuhkan.