Perwakilan Indonesia 'Warnai' Kongres Pemuda OIC di Turki - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Perwakilan Indonesia 'Warnai' Kongres Pemuda OIC di Turki

Saturday, October 11, 2014
ISTANBUL, TURKI. Tahun ini pertemuan pemuda OKI atau yang dikenal dengan OIC diadakan di Istanbul Turki dan Indonesia hadir sebagai bagian keanggotaan peserta OIC. Beni Pramula ( Ketua Umum DPP IMM ) didaulat oleh forum untuk memimpin proses sidang OIC yang mengambil tema : 2nd GENERAL ASSEMBLY. Islamic Conference Youth Forum for Dialogue & Corporation. “Preserving Values Rendering Vuture Better”. 9 – 11 0ktober 2014.

Adapun agenda ICYF-DC 2014 ini selain melaporkan kebijakan selama satu periode, mengkoordinasikan, mengevaluasi dan menyusun kegiatan pemuda di negara-negara OKI. Memilih Presiden, Sekretaris Jendral dan Anggota Dewan OIC periode 2014-2018. Forum ini akan membahas mengenai beberapa isu utama diantaranya: advokasi kepentingan pemuda, mendukung pembangunan berkelanjutan, menjaga perdamaian dunia, pendidikan, kewirausahaan, penguatan nilai-nilai moral generasi muda dan terlibat dalam dialog antar budaya.

Beni menyampaikan. “Alhamdulillah. Selain berkesempatan untuk mewarnai forum bergengsi tingkat internasional ini kami delegasi dari Indonesia yang meliputi saudara Karman, Beni Pramula, Faridah Facrihah, Adi Baiquni, Hilmawan, Tan Taufiq Lubis dan Effendi Syahputra diutus oleh OIC Indonesia. Berhasil menghantarkan Tan Taufiq Lubis Ketua OIC Indonesia menjadi anggota Dewan OIC Internasional yang selanjutnya beliau akan berkantor di Word Stret Center Istanbul Turki representasi Pemuda Indonesia sekaligus satu-satunya pemuda dari kawansan ASIA yang akan memainkan peran-peran strategis kerjasama multilateral antar pemuda Negara Islam. Kita berharap dengan terpilihnya Saudara Tan menjadi anggota Dewan OIC dapat dirasakan manfaatnya bagi kemajuan Pemuda Islam di Indonesia".

Pertemuan OIC ini sangat penting di tengah bergolaknya perpolitikan dunia Islam, khususnya negara-negara di Timur Tengah. Pemuda Indonesia dapat mengambil peranan strategis dengan modal politik (demokrasi), ekonomi (pertumbuhan ekonomi), dan sosia budaya (Islam terbesar) bagi penyelesaian konflik yang melanda negara-negara muslim. 

Krisis politik yang kerap dialami negara-negara anggota OKI pada beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa dunia Islam saat ini membutuhkan role of model dalam proses transisi dan demokrasi. Sebagai salah satu anggota OKI dengan jumlah penduduk mayoritas beragama Islam terbesar di dunia, Indonesia dituntut untuk memberikan kontribusi nyata dalam upaya mencapai perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Indonesia dipandang mampu untuk berperan sebagai teladan (role of model) bagi keserasian antara Islam, modernitas dan demokrasi damai, serta sebagai bridge builder hubungan Barat dan Islam. Tuntutan untuk ikut berperan dalam upaya perdamaian bagi Negara-negara anggota termasuk Indonesia sejalan dengan Mecca Declaration and Ten-Years Program of Actions Organization of The Islamic Conference (TYPOA-OIC) yang tidak hanya fokus pada isu politik, tetapi juga isu-isu pembangunan, sosial, ekonomi dan ilmu pengetahuan”. Demikian ungkap Beni melalui email yang dikirimnya.

Sebagaimana diketahui Organisasi Konferensi Islam (OKI) merupakan organisasi internasional non militer yang didirikan di Rabat,Maroko pada tanggal 25 September 1969.
Dipicu oleh peristiwa pembakaran Mesjid Al Aqsha yang terletak di kota Al Quds (Jerusalem) pada tanggal 21 Agustus 1969 telah menimbulkan reaksi keras dunia, terutama dari kalangan umat Islam. Saat itu dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengorganisir dan menggalang kekuatan dunia Islam serta mematangkan sikap dalam rangka mengusahakan pembebasan Al Quds.

Secara umum tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk mengumpulkan bersama sumber daya dunia Islam dalam mempromosikan kepentingan mereka dan mengkonsolidasikan segenap upaya negara tersebut untuk berbicara dalam satu bahasa yang sama guna memajukan perdamaian dan keamanan dunia muslim. Secara khusus,  OKI bertujuan pula untuk memperkokoh solidaritas Islam diantara negara anggotanya, memperkuat kerjasama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek.

Beberapa peran aktif Indonesia di OKI yang menonjol adalah ketika pada tahun 1993 Indonesia menerima mandat sebagai ketua Committee of Six, yang bertugas memfasilitasi perundingan damai antara Moro National Liberation Front (MNLF) dengan pemerintah Filipina. Kemudian pada tahun 1996, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri (KTM-OKI) ke-24 di Jakarta.

Indonesia juga memberikan kontribusi untuk mereformasi OKI sebagai wadah untuk menjawab tantangan umat Islam memasuki abad ke-21. Pada penyelenggaraan KTT OKI ke-14 di Dakar Senegal, Indonesia mendukung pelaksanaan OIC's Ten-Year Plan of Action. Dengan diadopsinya piagam ini, Indonesia memiliki ruang untuk lebih berperan dalam memastikan implementasi reformasi OKI tersebut. Indonesia berkomitmen dalam menjamin kebebasan, toleransi dan harmonisasi serta memberikan bukti nyata akan keselarasan Islam, demokrasi dan modernitas.

"Melalui ICYF-DC 2014, OIC diharapkan mampu membangun nilai-nilai toleransi, modernitas, demokrasi, memerangi terorisme, membendung Islamophobia, meningkatkan kerjasama dan solidaritas antar negara anggota, conflict prevention, penanggulangan masalah Palestina, Filipina Selatan, Thailand, Kashmir yang tak kunjung usai, serta masalah-masalah yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara". Begitu disampaikan oleh Tan Taufiq lubis yang kini menjadi anggota Dewan OIC.