Sajak Perlawanan. Tetaplah Lantang Kawan, Jalanan Masih Terlalu Indah Untuk Ditinggalkan…!!! - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Sajak Perlawanan. Tetaplah Lantang Kawan, Jalanan Masih Terlalu Indah Untuk Ditinggalkan…!!!

Thursday, October 30, 2014
AKU masih disini, berdiri tegak diatas bumi pertiwi menekur dalam harap cemas perubahan, menyaksikan curat-marutnya ketatanegaraan, ditangan lalim para pencengkram kekuasaan…
Sesekali air mata berlinang menatap si kecil yang mengais rizqi dijalanan, sedangkan putra kaum elit duduk manis mengenyam bangku pendidikan…
Kurasa adil dan makmur hanya terpasung pada patung keramat burung garuda yang menghiasi istana kepresidenan, ketika melihat si papa lagi tua rentah hanya beralas kardus dibawah kolong jembatan…
Lidah begitu keluh menahan onak yang tak kuasa ingin kuteriakkan…
Masih ku ingat jerit pilu kaum buruh menuntut kesejahteraan, sebab kerja kontrak tak ubahnya bak kaum jajahan habis manis lalu sepah dibuang, perbudakan pekerja panci di Tangerang merupakan realitas memilukan.
Sedangkan nun jauh diseberang sana, para Pahlawan devisa keluh pilu ditanah rantau, muka robek digilas setrika, caci maki sumpah serapah, bahu patah, bibir memar, kehormatan dijarah. Tak sedikit yang pulang tanpa nyawa…
Sementara mereka di ‘Senayan’ mengatasnamakan koalisi untuk rakyat hanya bersuara lantang dengan nada sumbang, lalu diam membungkam setelah mulut disulam dengan uang,  tak jarang mempertontonkan kelakuan ala preman…
Kurasa mereka tidak lebih mulia dari pekerja sek komersial yang menjajakan diri ketika malam datang. Bedanya yang satu adalah kaum terhormat, memakai baju kemunafikan berkoar ditelevisi dengan dalih aspirasi rakyat, lalu tunggang langgang setelah mendapatkan proyek tambal-sulam. Sedangkan yang lain menjajahkan mahkota kehormatan karena dililit kelaparan, sebab keterbatasan lapangan pekerjaan.
Rasanya mendidih, merinding ketika kemarin ku dengar TKI mati ditiang pasung…
Ulah para penguasa lalai yang hanya duduk manis di kursi-kursi empuk pemerintahan, tebar pesona untuk pencitraan lalu tutup telinga ketika gunjingan datang. Tukang sate pun digelandang ke ‘kandang’.
Di Negeriku tuan, Keadilan ibarat pohon ilusi yang tumbang dimeja perkara, sebab hukum tebang pilih jaksa berjubah vampir, hakim disodomi dengan rupiah, pengacara berlidah serigala,
Polisi bak kompeni, si kaya bisa bebas  dengan mudahnya, sebab si miskin tak akan mampu merekayasa kasusnya…
Di Negeriku Tuan, ingin jadi pemimpin harus pandai menipu ketika pemilu, basa-basi janji semu jangan malu, sebab jika tidak begitu tidak laku.
Di Negeriku Tuan ingin menang pilkada harus berkerjasama dengan KPU. Sebab pandai menggelembungkan suaramu, jangan lupa bagi-bagi angpau untuk setiap kepala keluarga 50ribu.
Di Negeriku Tuan, Rakyat miskin bersimbah luka, membayar pajak untuk menggaji pejabat, malah masuk kantong keparat, penjahat berbaju malaikat, ulah politisi bak tikus memakai dasi.
Di Negeriku Tuan, Rakyat miskin bersimbah luka disayat, membayar pajak untuk menggaji pejabat, malah masuk kantong keparat, penjahat berbaju malaikat.
Di Negeriku Tuan, Koruptor lebih subur daripada padi disawah, kehadirannya merajalela, bahkan KPK dipermainkannya.
Para pemimpinnya hidup mewah Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah…
Tidak buta, tapi tak melihat. Tidak tuli,Tapi Tak Mendengar.
Aku melihat sebagian begitu gagah duduk diruangan ber AC dengan kendaran mewah, dan pengawal dengan tubuh kekar, yang diinginkan hanya perlu ditagih. Tapi sebagian yang lain bernaung diantara kardus sampah, berteduh dibawah jembatan, hidup dibawah terik Matahari.
Si  papah yg tangannya menengadah, hati menjerit dan bibrnya meminta. Kalian yang Berjanji akan adil dan akan mensejahterakan, Telah berpenyakit amnesia. klian pura-pura Buta dan tuli…
Teruslah bergerak kawan… Jalanan terlalu indah untuk kita tinggalkan,
perubahan mungkin belum sekarang, tetapi menjadi bagian dari perubahan nanti adalah kebanggaan. Bertahanlah meskipun harus bersimbah darah dibumi pertiwi ini. Perjuangan ini belum seberapa dibanding pendahulu bangsa yang telah mempersatukan Nusantara.
Biarkan mereka menuduh ini ditunggangi sia anu, si ini, atau si itu, tutup teliga keras-keras untuk suara-suara sumbang itu, biar nanti kebenaran yang angkat bicara dengan sendirinya,
Percayalah ini Sirotul Mustakim, lagi pula kita bukan aktifis bayaran dengan isu titipan, kita tak semurah yang mereka kira. Kita lantang atas dasar realita, Kaum pergerakan sejati adalah mereka yang brgerak dengan lidah, tindakan dan perbuatan.
kadang harus dicibir, kadang dbenci, diasingkan bahkan dbuang. Tapi akan selalu dikenang, kehadirannya dirindukan dan lembaran sejarah mreka akan ditulis dengan tinta-tinta emas. Hingga anak cucu bangga memiliki mendiang yg bukan mewariskan harta tapi khormatan,
Yang hidup bagaikan lilin, Yang mati dalam kemuliaan… Permukaan masa lalu yang silam, tak lagi kelam karena merah putih yang bersinar
Para laskar Ibu Pertiwi telah mengukir indah hasil jerih payah perjuangan dari sejuta pengorbanan tanpa pamrih. Harta, jiwa dan darah telah menjadi penebusnya, hari tak lagi gulita, tanah tak lagi dijajah, anak cucu bermain bersahaja di taman indah bernama Kemerdekaan…
Merekah budi luhur Pahlawan, menyemai semerbak taman Nusantara untuk generasi masa kini agar bernafas leluasa dalam kemerdekaan sejati dikemudian hari…
Penjajah telah lari tunggang langgang. Hari ini adalah tugas generasi masa kini untuk menyadarkan penjajah dari Negeri sendiri.
Agar kelak dari sabang sampai merauke terbentang masa depan gemilang bagi setiap generasi yang baru dilahirkan…
Agar kelak setiap generasi menjadi tuan diNegerinya sendiri..
Agar kelak setiap generasi tak perlu mempertaruhkan nyawa keluar Negeri mencari Rizqi...
Bangkit Kaum Muda...

Oleh : Beni Pramula
Ketua Umum 
Dewan Pimpinan Pusat 
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah