Sisi Lain Dibalik Demokrasi Indonesia (2/ Habis) - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Sisi Lain Dibalik Demokrasi Indonesia (2/ Habis)

Wednesday, October 22, 2014

Penulis : Sony Irawan


Kesenjangan ekonomi yang saat ini melanda hampir seluruh masyarakat Indonesia tidaklah terjadi secara begitu saja, faktor utama yang menjadi penyebabnya, adalah pembangunan negara yang gagal akibat tindak korupsi para pejabat elit politikyang semakin meraja rela, namun jika di telaah secara mendalam bahwa kesenjangan ekonomi tidaklah semata-mata hanya karena tindak korupsi, lebih dari itu, kesenjangan ekonomi dan sosial ternyata dibentuk olah budaya kebebasan yang mengarahkan pada pola kehidupan yang hedonis dan glamoris yang dilakukan oleh segelintir orang-orang kaya yang memiliki harta berlebihan, tidak salah memang jika pertanyaannya mengapa mereka malakukan hal tersebut, satu pola pikir yang ada di benak mereka adalah:

“selagi saya tidak merugikan anda dan hak saya tidak melanggar hak anda kenapa harus diributkan, karena ini negara demokratis siapa saja berhak mengekspresikan gaya hidupnya sesuai kemampuannya”

Kebebasan berekspresi yang selama ini diagung-agungkan dalam nilai demokrasi ternyata menjadi boomerang tersendiri bagi masyarakat Indonesia dan khususnya pemerintah. Golongan masyarakat yang memiliki kemampuan lebih akan terus meningkatkan drajat kehidupanya yang sesuai mereka inginkan segala material seperti rumah mewah, mobil mewah, sekolah bertaraf tinggi, setumpuk perhiasan, simpanan uang di bank, investasi, bisnis usaha, bahkan istri simpanan pun menjadihal mutlak yang harus mereka penuhi. Namun bagaimana dengan golongan masyarakat kelas menengah kebawah atau sebut saja masyarakat miskin? Bagi mereka “Saget mangan sadino aye wis bejo opo maneh sekolah”.  

Dampak buruk selanjutnya dari kebebasan yang berlebihan telah membawa Indonesia pada fenomena-fenomena sosial yang mengarahkan kepada kondisi masyarakat yang liberal yang lebih bersifat individualisme. Sikap individualisme yang lahir dari paham kebebasan pun turut membidani lahirnya prilaku-prilaku yang tidak terpuji. Contohnya prilaku para salebritis pengrajin seni layar kaca yang selalu menjadi inpirasi bagi generasi muda Indonesia, tampa harus mempertimbangkan benar atau salahprilaku yang mereka lakukan. Bahkan dengan bangga para generasi muda menyatakan: “Benar atau salah mereka tetap idola ku”. Hasilnya kehidupan bebas yang penuh dengan glamoritas dengan segala aksesoris kemewahan model-model ternd masa kini dengan balutan busana yang mengumbar aurat secara terang-terang, hingga tingkah laku yang sensasional dan mengundang kontroversi, semuanya menjadi konsumsi publikyang selalu dipertontonkan oleh para salebritis di layar kaca. Hal ini pula yang menjadi alasan utama para pekerja seni di tanah air merasa sangat keberatan mengenai rencana pemberlakuan Undang-undang anti pornografi dan pornoaksi yang mereka klaim sebagai pelangaran hak secara besar-besaran mengenaihak kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh seluruh penduduk Indonesia.

Akibatnya, moral bangsa menjadi teruhanya, tidak heran jika akhir-akhir ini sering kali terdengar mengenai kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan di traspotasi umum, tindak pencabulan yang dilakukan oleh para pelajar SMA hingga SMP, maraknya porstitusi di berbagai daerah, meningkatnya angka kehamilan di usia dini tampa status pernikahan yang sah. Pilihan untuk melakukan tindakan aborsi dianggap menjadi cara alternatif satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari cap buruk dikalangan social, walaupun tindakan semacam ini jelas-jelas dilarang dan sudah tercantum dalam undang-undang, sehingga siapa saja yang melanggar akan ditindak seseuai dengan peraturan hukum yang berlaku. Hal yang paling tidak diinginkan dari semua ini adalah semakin merebaknya penyebaran virus HIV AIDS dikalangan generasi muda Indonesia. Tentu hal seperti tidak diinginkan oleh siapapun, namun apa boleh buat kondisi yang sedemikian rumit seakan telah menjadi pemandangan sehari-hari, seakan menonton pertunjukan wayang di malam hari sambil ditemani secangkir kopi hangat, dan seiket kacang rebus. Lalu kalau boleh menuding siapa yang seharusnya bertanggungjawab akan hal ini ?, selepas dari itu, timbul pertanyaan masih relevankah demokrasi yang selama ini djunjung tinggi oleh hampir seluruh elemen politik dunia dan para penguasa global menjadi “obat” penawar bagi penyakit yang sedang diinggapi oleh negeri saat ini?, atau hanya menjadi obat bius yang sejatinya hanya bisa menenangkan kondisi pasien sementara, tanpa sedikitpun mengobati luka yang diderita pasien tersebut?, jawabannya mungkin bisa anda diskusikan masing-masing. Telaah dan berfikir kritis serta mendalam sangat dibutuhkan untuk menjawab masalah bangsa kondisi sosial masyarakat, dari pada hanya kata-kata normatif dan bualan kosong yang tak lebih dari gelak tawa canda di acara-acara yang marak diproduksi oleh stasiun TV.