Stop Rebutan Piring Nasi, Menpora Jangan Cuma Jadi Selebriti ! - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Stop Rebutan Piring Nasi, Menpora Jangan Cuma Jadi Selebriti !

Monday, October 13, 2014
Miris. Itulah satu kata yang bisa terucap melihat penurunan prestasi Indonesia, khususnya di kancah Asian Games 2014 baru-baru ini. Lagi-lagi, yang jadi kambing hitam siapa? Tentu Atlet dan Pelatihnya. Padahal, di balik layar bukan cuma mereka yang layak jadi tertuduh.

Penyebab pertama menurut saya adalah cekcok internal di sejumlah organisasi keolahragaan. Rebutan ‘piring nasi’ antar pengurus acapkali membuat mandek aktifitas latihan kita. Sekaligus berdampak negatif pada mental atlet.

Belum lagi, akibat itu banyak kasus atlet dan pelatih yang prestasinya bagus dengan serampangan digeser dan dimatikan karakternya karena melakukan protes. Kejadian ini lazim terjadi di tingkat provinsi, juga nasional sekalipun.

Andi Purwanto 
Atlet/ Pelatih Gulat, Wushu dan Bola Tangan
Bahkan info yang berkembang dari kawan-kawan, bobroknya prestasi di Asian Games tidak terlepas dari imbas perseteruan KONI dan KOI. Menpora yang sejatinya mampu menjadi penengah malah cuci tangan. Lah ini Menpora ngerti olahraga atau cuma mau jadi selebriti? Menteri sungguh lucu sekali.

Kuncinya saat ini adalah reformasi sistem olahraga! Tapi bukan cuma teori, yang ujung-ujungnya hanya tertulis diatas kertas mengatasnamakan UU No 3 tentang sistem keolahragaan Indonesia.. Undang-undang yang sempat melewati perjalanan panjang yang kami perjuangkan bersama Forum Peduli Atlet sejak masa Presiden Megawati Soekarno Putri, dan kemudian baru disahkan pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2005 itu seakan tak memberi makna yang signifikan. Implementasinya tumpul kebawah.

Ironis saja, ketika kita melihat banyak sekali mantan atlet yang bingung ketika anaknya sakit hendak dibawa berobat kemana. Ada yang menjual medali demi sesuap nasi, dan petinju mati diatas ring tanpa jaminan negara. Meskipun hidupnya dihabiskan untuk membela nama tanah air, Indonesia.
Menteri ke depan, saya berharap mampu memberikan jaminan kesejahteraan. Untuk pelatih dan atlet, bukan untuk pelaku kelembagaan olahraga. Pikirkan beasiswanya, berilah penghargaan untuknya, baik dalam bentuk pekerjaan, asuransi, maupun tunjangan hari tua. Selanjutnya perketat pengawasan.
Sudah jadi rahasia umum, selama ini sering terjadi konflik antar pengurus olahraga karena persoalan anggaran. Atlet dan pelatih yang merasa kurang dihargai, banyak loncat dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan banyak yang hengkang ke negeri tetangga. Memprihatinkan.