Inilah Peran Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Inilah Peran Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran

Friday, December 5, 2014
Jakarta-iPublika. Bela negara, seperti yang diamanatkan UUD 1945 merupakan hak dan kewajiban seluruh elemen masyarakat. Namun ketika kita berbicara dalam konteks etnik Tionghoa, nampaknya antara orang Tionghoa Indonesia dengan dunia kemiliteran masih sering dipersepsikan sebagai dua entitas yang terpisah, saling berjauhan. Begitulah yang disampaikan Hardy Stefanus, Ketua Umum DPP Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Gema INTI) dalam siaran berita yang dikirimkan ke redaksi ipublika.com.

Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Gema INTI)  dan  Yayasan Nabil (Nation Building) bekerja sama Penerbit Buku Kompas (PBK) dan Universitas Pertahanan Indonesia menggelar peluncuran dan diskusi buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Dari Nusantara sampai Indonesia. Acara Peluncuran dan Diskusi Buku pada hari  Kamis, (4/12) di   Gedung Joang ‘45, Jl. Menteng Raya No 31, Jakarta Pusat.

Narasumber yang dihadirkan adalah Laksamana Madya TNI Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc., Rektor Universitas Pertahanan Indonesia, dan  Mayor Jenderal TNI Agus Sutomo, S.E dari Pangdam Jaya, Dr. Jaleswari Pramodhawardani sebagai Pengamat Militer LIPI,  serta dimoderatori oleh  Ulung Rusman, Alumnus Lemhannas.

Hardy Stefanus menjelaskan bahwa Buku “Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Dari Nusantara sampai Indonesia yang digagas oleh Ketua Pendiri Yayasan Nabil, Drs Eddie Lembong mengungkap fakta sejarah yang tak banyak diketahui. Salah satu diantaranya adalah keterlibatan warga Tionghoa dalam berbagai aktivitas kemiliteran di Nusantara yang ternyata telah berlangsung lebih dari satu milenium.  Patriot-patriot berkulit kuning telah ikut berjuang bersama kaum pribumi sejak zaman pra-kolonial, kolonial, Perang Kemerdekaan RI (1945-1949), masa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966), sampai masa Operasi Seroja Timtim (1976). Banyak di antaranya kemudian dilupakan, namun ada juga yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Lebih lanjut Hardy juga menjelaskan Prajurit dan panglima Tionghoa—Totok maupun Peranakan—antara lain pernah ikut ambil bagian dalam aksi penyerbuan armada laut Jepara ke Malaka (abad ke-16); "Geger Pacinan" atau perang Jawa-Tionghoa  melawan VOC-Belanda (abad ke-18); dan Perang Kongsi di Kalimantan Barat (abad ke-19). “Dalam sejarah kemiliteran Indonesia pernah ada: laskar "Pemberontak Tiong Hoa"; serta “Laskar Pemuda Tionghoa” yang mendukung Proklamasi 1945; tokoh John Lie, pahlawan Angkatan Laut yang kemudian diangkat sebagai Pahlawan Nasional (2009). Demikian pula adanya para perwira Tionghoa alumni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dari matra darat, laut dan udara.”

Mantan presiden mahasiswa Universitas Tarumanegara ini juga mengungkapkan bahwa  buku ini diharapkan bisa  memotivasi pemuda-pemuda etnik Tionghoa untuk masuk ke dalam institusi TNI. “Dalam berbagai kesempatan, TNI sudah membuka pintu lebar-lebar, namun animo yang diberikan oleh generasi muda etnik Tionghoa belum menggembirakan lanjutnya itu Alangkah indahnya apabila penjaga Ibu Pertiwi di darat laut dan udara semakin banyak diisi oleh pemuda pemudi Tionghoa. Dengan kata lain, buku ini diharapkan akan membawa secercah kontribusi pada proses Nation Building kita,” tutupnya. (phb/kr)