Spanduk dan Bendera Partai Aceh Masih Terbentang (Din Minimi Bagian II) - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Spanduk dan Bendera Partai Aceh Masih Terbentang (Din Minimi Bagian II)

Wednesday, March 23, 2016


Dari pintu depan, kami masuk dengan menaiki anak tangga rumah panggung kayu sederhana milik Din Minimi. Setelah mengucap salam, pandangan langsung terpusat pada spanduk ukuran 3x1 meter bercorak bendera partai Aceh dengan foto Muzakkir Manaf di samping kanan.

Padahal bekas panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang kini menjabat sebagai wakil Gubernur Aceh adalah termasuk orang yang sempat meminta agar pemilik rumah itu ditangkap. Baik dalam keadaan hidup atau mati!

Pemberontakan dia terhadap pemerintah Aceh ditanggapi beragam oleh publik. Ada yang mendukung, Adapula yang menuduhnya mencuri panggung. Aksi Din Minimi cs kembali mengangkat senjata pascaperdamaian cukup menyita perhatian publik, tidak hanya dari Jakarta, melainkan juga menjadi sorotan dunia. Tuntutan mereka adalah agar anak yatim, janda korban konflik, dan fakir miskin diperhatikan oleh bekas elit GAM yang kini berkuasa di Aceh.

Din Minimi terdiam lalu menatap tajam, ketika disinggung seringnya pejuang yang menjadikan anak yatim dan fakir miskin sebagai topeng perjuangan. Untuk mendapat simpatik masyarakat. Padahal, ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan pribadi.

"Biar disambar petir saja saya. Kalau disambar petir nanti, berarti jalan (perjuangan) saya bukan untuk anak yatim," ujarnya.

Bukan hanya Din, warga lain ketika saya menyinggung persoalan anak yatim di kampung tersebut, matanya langsung nanar dan berkaca-kaca. Mereka menjadi terbata-bata untuk berbicara. Konflik berkepanjangan melanda Aceh, mengorbankan banyak nyawa. Banyak anak-anak yang menjadi yatim, dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Pernah setiap lebaran, diakui warga setempat, ada santunan dibagikan untuk anak yatim melalui wadah berkumpul bekas Kombatan GAM, tapi sering uang yang diterima tidak cukup, biasanya mereka masing-masing kebagian Rp 100.000 untuk Meugang. Meugang adalah tradisi memasak daging di Aceh, jelang hari raya.

"Tapi anak kecil itu, dengan uang segitu jangankan untuk beli daging sapi, daging ayam saja nggak dapat. Terpaksa beli ikan bandeng, sekitar sekilo. Anak-anak lain makan daging. Cukup sedih," kenang salah seorang pria paruh baya, tak kuasa menahan air mata.

Menurut Lisnawati, Istri Din Minimi, memang sangat sensitif jika berhubungan dengan masalah anak yatim. Kisah saudara dekatnya, setiap jelang lebaran, Nurdin selalu bela-belain keluar rumah hingga lewat tengah malam untuk mencari uang guna mencukupi kebutuhan anak yatim di daerahnya. Mungkin, sebut istrinya, itu dilatarbelakangi karena sebelumnya Din Minimi juga adalah seorang anak yatim korban konflik. Kuburan ayah Nurdin, yang juga Kombatan GAM dengan nama alias Abu Minimi hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya.

"Bukan kalau tidak di kuburan, nggak sampai doa kita, dimana pun kita duduk sampai doa kita. Tapi kemuliaan tubuh. Kita duduk di kuburan, baca Yasin. Kita nggak ada, cuma berdoa saja. Sakit terus. Kecewa," tutur Din Minimi, lirih kepada Rakyat Merdeka, sambil mematikan api rokok, dan menginjaknya.

Seperti diketahui, tepat dua hari setelah turun gunung, Din Minimi bersama kelompoknya, langsung menggelar jamuan makan siang bersama 300 anak yatim. Itu agenda utamanya.

Anak yatim ini kabarnya diundang dari dua kecamatan di Aceh Timur, yakni Kecamatan Indra Makmue dan Julok. Ada dua ekor sapi yang disembelih. Banyak yang terheran-heran, dari mana Bang Din mendapatkan uang.

"Kaya raya dia, dari mana dapat duit begitu banyak. Padahal dia orang miskin. Aneh," tulis salah seorang Facebookers mengomentari berita di media online terkait kegiatan santunan tersebut.

Guna menjawab rasa penasaran itu, saya menanyakan pada Din Minimi. Apa benar itu uang hasil rampokan selama pegang senjata seperti yang dituduhkan?

Dengan ceplas-ceplos dia langsung membeberkan.

"Dana dari bapak (Sutiyoso) dulu, (diberikan) ketika hendak pulang. Rp 100 (juta). Saya bagi ke anggota, masing-masing Rp 2 (juta) setengah. Lebihnya saya kenduri," ungkapnya.

Tapi salah satu eks kombatan GAM, yang mengaku rekan seangkatan saat bai'at (sumpah) ketika masuk GAM meragukan kemurnian perjuangan Din Minimi. Dia menduga ada motivasi lain. Kelompok seperti ini bukan hanya Din Minimi cs, tapi ada beberapa kelompok yang juga bersenjata dan mulai menjamur di beberapa daerah di Aceh. Ada pula yang mengatasnamakan kelompok pecahan Din Minimi, baru-baru ini yang mulai santer mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok TRAK (Tentara Keadilan Rakyat Aceh)

Ada apa sebenarnya?

Bersambung....