Chappy Hakim: Terbang di Halim, Mau Turun Nunggu Sampai 40 Menit - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Chappy Hakim: Terbang di Halim, Mau Turun Nunggu Sampai 40 Menit

Wednesday, April 6, 2016
Seperti diketahui, di runway Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (4/4) sekitar pukul 19.55 WIB, pesawat terbang milik Batik Air jenis Boeing 737-800 reg PK-LBS 'nyerempet' dengan pesawat TransNusa.

Kejadian ini sekaligus membuktikan kekhawatiran Chappy Hakim beberapa waktu lalu dalam satu kesempatan wawancara, menyikapi kondisi Bandara Halim yang kini dikepung pesawat komersil.

Agar jalan keluar yang tepat, bekas Kepala Staf TNI Angkatan Udara ini meminta ada audit dan investigasi terhadap kasus ini.

Berikut wawancara selengkapnya;

Analisis yang anda sampaikan dalam wawancara beberapa waktu lalu mulai terbukti, apa komentar anda?
Nggak ada komentar saya, sudah tahu itu akan terjadi kok. Tunggu waktu saja, pasti akan terjadi. Dan terjadi beneran kan.

Tapi masih ada saja pengamat penerbangan yang bilang kecelakaan itu bukan karena kepadatan penerbangan di Halim, tapi hanya karena human error. Ini mana yang benar ya?
Saya puluhan tahun terbang di Halim ya. Jadi saya tahu betul.

Yang terbaru, apa yang anda ketahui?
Beberapa bulan yang lalu saya terbang di Halim, mau turun itu nunggu sampai 40 menit. Kalau pesawat itu harus menunggu sampai 40 menit di sebuah aerodrome yang run-way nya cuma satu, taxy-way nya nggak ada, itu tandanya apa? Gitu aja sekarang, silahkan dijawab.

Lalu apa benar kecelakaan di Halim hanya karena human error?
Kalau dijawab human-error gampang, semua juga human-error, kalau nggak ada yang terbangin, nggak bakalan ada kejadiankan. Silahkan dengerinlah banyak orang-orang sok tahu, orang-orang yang sok tahu silahkan aja.

Kecelakaan Batik Air kemarin membuat masyarakat mulai banyak yang takut terbang di Halim. Apa memang separah itu?
Ini kan cuma nyerempet ya. Mungkin sebelum ini banyak yang hampir atau nyaris (nyerempet). Jadi kan banyak ini, yang kita nggak tahu. Kalau didiamin ini fatal, bisa meninggal banyak orang. Bisa ratusan meninggal kalau tabrakan pesawat dengan pesawat.

Jika sekarang nyerempet, nanti bisa saja tabrakan ya kalau masih dibiarin?
Iya... Bagaimana penerbangan komersial mau pakai Halim, tanpa menambah fasilitas yang ada.

Jadi?
Run-waynya satu, taxy-way nggak ada, apron nya sempit, dibabat aja sama penerbangan yang terus banyak. Bagaimana itu kalau... Itu kan berbahaya dan itu tinggal tunggu saja, akan celaka. Dan itu terjadi belakangan ini.

Kelihatannya ini seperti ada pembiaran ya?
Dalam penerbangan itu semua harus direncanakan dengan matang. Itu pertama. Yang kedua, penerbangan itu tidak bisa hanya dikejar pertumbuhan penumpang dan pertumbuhan ekonominya saja. Harus dipikirkan juga ketersediaan SDM (Sumber Daya Manusia), kesiapan infrastruktur, itu harus bersama-sama. Kalau hanya dikejar pertumbuhannya saja, izin rute dikasih ugal-ugalan nggak karu-karuan, yang terjadi ya seperti ini.

Dasar anda mengatakan itu?
Pada waktu di Cengkareng kan mestinya diaudit dulu, diperiksa dulu, kenapa terjadi (kepadatan), kan nggak dilakukan. Yang dilakukan adalah cari-cari pangkalan lain untuk bisa muntahannya dipindahin. Udah gitu bukan muntahan saja yang dipindahin, tapi dia buka lagi rute baru justru di sana. Ini kan makin padat, makin ngawur semuanya. Istilahnya ini adalah mismanagement dari otoritas penerbangan sipil nasional.

Apa perlu ada pembatasan slot penerbangan di Halim?
Bukan pembatasan, tapi dicek dulu donk. Kenapa sampai terjadi, ini kan dari tahun 2010 pertumbuhannya (penumpang pesawat terbang) kan dari 10-15 persen. Kenapa? Karena pertumbuhan kan tidak mendadak, nggak tiba-tiba. Kenapa pertumbuhan itu tidak direspon dengan baik. Dengan meningkatkan infrastruktur dan menyiapkan SDM. Kan Pilot jadi kebanyakan pilot asing sekarang. Karena apa, karena nggak siap. Yang dikejar cuma cari duit, faktor finansialnya saja. Yang terjadi apa, ya kecelakaan. Gampang sekali kok itu sebenarnya. Ada kesalahan yang sangat fatal dan mendasar.

Lalu apa kira-kira yang harus dilakukan?
Semua stakeholder penerbangan harus duduk bersama. Harus jujur membuka ada masalah apa, kemudian cari solusi sama-sama. Kalau itu tidak dilakukan, ya nggak usah tanya kalau nanti ada kecelakaan lagi. Ini kan mereka hanya mau menang-menangan saja, mengejar pertumbuhan penumpang. Ini soal cari duit aja.

Kalau pembatasan slot penerbangan perlu dilakukan?
Apapun silahkan dilakukan. Ini dicek dulu donk, ini kenapa, kejadiannya kenapa, belum ada dicek, belum ada flight timenya, belum ada penelitian, harus diaudit donk semuanya. Sekarang gini sederhananya, itu pilot bulan lalu jam terbangnya berapa, tahun lalu berapa jam, ini narkoba apa nggak, jadi dicek dulu. Cengkareng itu kenapa kepenuhan. Kenapa delay sampai 10-12 jam. Ini kan nggak dicek, tinggal pindahin aja lah kelebihannya ke Halim. Model-model seperti ini adalah model manajemen tambal sulam, mengundang terjadinya kecelakaan.

Kalau begini, siapa yang salah sebenarnya?
Saya nggak bisa ngomong, saya nggak tahu kesalahan siapa. Harus dicek dan dievaluasi dulu siapa yang salah.

Apa perlu hasil evaluasi itu dibuka ke publik?
Harus donk. Harus ada penelitian, harus ada investigasi, harus ada kejujuran. SAR