Dahnil Anzar: Istri Siyono Tidak Mau Tanda Tangan Surat. Dia Memang Ingin Mendorong Autopsi - Kolumnis

Mobile Menu

Powered by Blogger.

MARITIM

More News

logoblog

Dahnil Anzar: Istri Siyono Tidak Mau Tanda Tangan Surat. Dia Memang Ingin Mendorong Autopsi

Thursday, April 7, 2016
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar memastikan tidak akan ada perubahan sikap Muhammadiyah dalam mengungkap fakta dan keadilan dalam kasus Siyono, terduga teroris yang tewas di tangan Densus 88. Khususnya setelah Muhammadiyah menemui Kapolri, Senin (2/2) lalu. Hasil autopsi oleh tim dokter forensik juga rencana akan dipublikasi secara lengkap dan terbuka dalam pekan ini.

Berikut wawancara selengkapnya;
Apa temuan penting tim dokter forensik sejauh ini?
Kemarin ada dua catatan penting yang disampaikan tim dokter forensik.

Apa saja itu?
Pertama, tehadap jenazah Siyono sama sekali belum pernah dilakukan autopsi. Padahal pihak kepolisian menyatakan sudah pernah dilakukan autopsi, sementara temuan tim dokter, belum pernah dilakukan autopsi sama sekali. Walaupun hari ini (5/4) pernyataan Kadiv Humas beda lagi ya, yang menyatakan iya belum dilakukan autopsi karena keluarga menolak. Padahal sebelumnya bilang sudah autopsi, sekarang bilang memang belum (autopsi). Karena keluarga sudah menandatangani surat tidak perlu melakukan autopsi.

Memangnya benar Bu Suratmi sudah tanda tangan?
Padahal Bu Suratmi, istrinya Siyono tidak mau tanda tangan surat. Dia memang ingin mendorong autopsi.

Selain itu, apa lagi temuannya?
Yang kedua, memang ditemukan banyak patah tulang, yang disebabkan oleh benturan keras benda tumpul. Tetapi, untuk kepastian penyebab kematiannya, memang harus dilakukan uji microscopis. Dua hal penting itulah yang disampaikan tim dokter forensik. Hasil lengkapnya akan kita sampaikan dalam pekan ini, apa saja temuan dari tim dokter forensik berkaitan dengan hasil autopsi.

Langkah apa selanjutnya yang akan ditempuh Muhammadiyah setelah mendapatkan hasil autopsi ini?
Dari sisi pemuda muhammadiyah dan muhammadiyah, kita tentu sebagai pihak yang mendampingi, proses mencari keadilan bu Ratmi, berkaitan dengan langkah hukum selanjutnya, karena pihak yang meminta juga pihak Komnas HAM, sebagai pihak yang punya legal standing, berkaitan dengan proses penyelidikan akibat kematian dari pak Siyono, tentu langkah selanjutnya yang perlu dilakukan sebenarnya kami serahkan kepada Komnas-HAM sebagai pihak yang meminta bantuan kepada Muhammadiyah dalam usaha mencari fakta.

Belum lama ini pihak Muhammadiyah dipanggil Kapolri, sebenarnya apa yang dibicarakan disana?
Normatif saja ya. Misalnya pihak Muhammadiyah menyampaikan perlu memang dievaluasi Densus 88, penanganan terorisme itu harus diperbaiki, bukan justru menghadirkan teror baru, hal-hal normatif seperti itu saja.

Respon Kapolri waktu itu?
Pak Kapolri setuju melakukan perbaikan atau evaluasi terhadap Densus 88.

Juga terkait SOP Densus 88?
Semuanya. Penganggaran, transparansi, akuntabilitas, sumber pendanaan dan macam-maca saya pikir harus ada evaluasi yang mendasar dan radikal terhadap Densus 88.

Setelah bertemu Kapolri, apakah ada sikap Muhammadiyah yang berubah?
Oh tidak sama sekali. Tim Forensik tetap akan bekerja sebagaimana mestinya. Kami juga akan menyampaikan temuan dokter forensik ya secara sebenar-benarnya.

Ada pihak-pihak yang curiga, kenapa Muhammadiyah ngotot sekali melakukan advokasi terhadap Siyono. Apa dia bagian dari kader atau keluarga Muhammadiyah?
Sama sekali yang bersangkutan tidak ada kaitannya dengan Muhammadiyah. Dia bukan kader dan bukan warga Muhammadiyah.

Darimana bisa membuktikan bahwa yang bersangkutan bukan bagian dari Muhammadiyah?
Coba anda lihat saja Bu Ratmi, dia kan menggunakan cadar, sederhananya dilihat dari itu saja. Mana ada warga Muhammadiyah yang menggunakan cadar. Bahkan Muhammadiyah sama sekali nggak kenal sama mereka, sampai dengan mereka mendatangi PP Muhammadiyah di Jogja yang diterima oleh pak Busyro, yang kemudian Komnas HAM juga datang meminta bantuan kepada Muhammadiyah untuk melakukan pendampingan. Jadi murni semuanya gerakan kemanusiaan. Siapa saja yang datang ke Muhammadiyah, selama Muhammadiyah sanggup, kemudian mereka mustadz'afin, tertindas, dan mencari keadilan, tentu Muhammadiyah bantu.

Apa pelajaran dan catatan penting dari kasus ini?
Ada evaluasi mendasar dalam usaha kita melakukan deradikalisasi oleh apa yang dilakukan Densus 88 juga apa yang dilakukan BNPT, bagi kita itu justru bukan usaha deradikalisasi,  tapi justru melahirkan radikalisasi. Ada orang yang dituduh teroris tanpa proses hukum yang jelas di bunuh. Itulah kemudian melahirkan dendam-dendam baru terhadap negara, dalam hal ini polisi, densus 88. Apa yang dilakukan Muhammadiyah mendampingi Suratmi, itulah sejatinya gerakan deradikalisasi. Jadi bagi kami, dakwah itu merangkul, bukan menendang. Dakwah itu ya harus bangun jembatan bukan bangun  tembok. Densus 88 dan BNPT selama ini kan masih dipenuhi dengan kekerasan, tuduhan dan segala macam ya.